MULYATI'S BLOG

Guru biasa memberitahukan,
Guru baik menjelaskan, Guru ulung memperagakan,
Guru hebat mengilhami.
Pengalaman Pembelajaran Lesson Study KTI/PTKSoal MatInfo

Tampilkan postingan dengan label Pembelajaran Matematika. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pembelajaran Matematika. Tampilkan semua postingan

Minggu, 29 Mei 2011

Belajar Menjadi Guru Inovatif


PEMANFAATAN MEDIA ENVI-TECH  SEBAGAI UPAYA  MENINGKATKAN
HASIL BELAJAR MATEMATIKA  MATERI BANGUN RUANG SISI DATAR
PADA  SISWA  KELAS  VIII  A SMP N. 25 SURAKARTA
 
ABSTRAKSI
Latar belakang  penulisan karya ilmiah ini adalah kegelisahan penulis akan rendahnya hasil belajar siswa  tidak hanya dari aspek akademis (kognitif) tetapi juga aspek sikap (afektif) terhadap matematika.  Salah satunya berkaitan dengan kurang kreatifnya guru memilih media pembelajaran yang efektif dan menarik. Selain itu pembelajaran lebih banyak didominasi guru dengan ceramah, dan siswa tidak diberi kesempatan menemukan konsep yang dipelajarinya secara mandiri. Di kalangan siswa selama ini juga banyak yang menganggap matematika pelajaran sulit dan membosankan.
Tujuan penulisan ini adalah sebagai alternatif menjawab permasalahan  berkaitan rendahnya hasil belajar tersebut. Penulis mencoba melakukan inovasi pembelajaran dengan  menerapkan media ENVI-TECH (environent – technology) yaitu perpaduan berbagai media berbasis teknologi dengan memanfaatkan sumber belajar dan software pembelajaran dari internet dan media berbasis  lingkungan di sekitar siswa berupa benda-benda atau barang-barang tidak terpakai  seperti karton bekas, kalender bekas, kayu, lidi, tusuk es krim, dan lingkungan sekitar siswa.
Pemanfaatan dua basis media tersebut penulis terapkan pada materi bangun ruang sisi datar  pada kelas VIII A SMP N 25 Surakarta tahun 2009/2010. Pengalaman tersebut penulis tuangkan dalam laporan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) melalui 2 siklus ditunjang oleh literatur relevan dari berbagai sumber (buku teks, internet).
Penerapan media ENVI-TECH terbukti sangat efektif meningkatkan hasil belajar matematika baik secara kognitif maupun afektif. Secara kognitif  terjadi peningkatan ketuntasan belajar dari 62,50 % (sebelum tindakan) menjadi 72,50 % (siklus I) dan menjadi 87,50 % pada siklus II atau terjadi kenaikan sebesar 25 % dari sebelum tindakan  ke siklus II.               Rata-rata nilai siswa meningkat dari 62,88 (sebelum tindakan) menjadi 65,65 (siklus I) dan menjadi 71,73 pada siklus II atau naik sebesar 9,35 dari sebelum tindakan ke siklus II. .       Secara afektif pemanfaatan media ENVI-TECH juga dapat menumbuhkan kesan-kesan positif tentang matematika dan pengembangan nilai humanisme siswa  berupa kreatifitas, kerjasama, percaya diri dan tenggang rasa siswa terhadap siswa lain. Hal ini  membuktikan bahwa pemanfaatan media ini mampu memfasilitasi pembelajaran  yang efektif, efisien, interaktif  menyenangkan dan memotivasi peserta didik  untuk berpartisipasi aktif, dan mandiri sehingga menumbuhkembangkan  karakter peserta didik dalam belajar.
Oleh karena itu  sebagai guru penulis menyarankan agar dalam pembelajaran matematika hendaknya guru memanfaatkan berbagai media baik di sekolah maupun  di lingkungan sekitar  dalam pembelajaran matematika dan memadukannya secara integral. Bagi sekolah yang sudah ada fasilitas teknologinya dapat memadukan media di lingkungan dengan media yang berbasis teknologi, sehingga siswa termotivasi dan aktif belajar sehingga hasil belajarnya meningkat.

      
Kata Kunci: Media Lingkungan, Media Teknologi, Pembelajaran Matematika Bangun Ruang Sisi Datar


Kamis, 02 Desember 2010

Jumat, 26 Februari 2010

TEMU AKBAR DAN SEMINAR PENDIDIKAN MATEMATIKA

Tema:
"Aplikasi Assesment for Learning  (AFL) dalam Pembelajaran Berbasis Konstruktivisme untuk Meningkatkan  Profesionalisme Guru Matematika"
  MGMP Matematika SMP Kota Surakarta
di Balai Muhammadiyah Surakarta, 17 Februari 2010

  
 
  
  
 
Keynote Speaker Prof. Dr Budyono MSc mengambil undian doorprize berupa 3 buah Hanphone

NB: Maaf ya... nggak sempat nulis ...  posting foto aja yah...

Selasa, 02 Februari 2010

Belajar Menjadi Guru Inovatif (1)


MEMBUKTIKAN TEOREMA PYTHAGORAS:
TIDAK (HARUS) MENGGUNTING DAN MENEMPEL

Kutipan  Karya:
Juara II LKG Tk Nasional 2009 (Kel Sains):

PENDEKATAN I-TESA DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA
SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN SIKAP POSITIF
DAN HASIL BELAJAR TEOREMA PYTHAGORAS



Materi pembelajaran Teorema Pythagoras merupakan materi pembelajaran kelas VIII SMP semester II yang berkaitan dengan konsep geometri. Pola pengajaran Pythagoras yang sering dilakukan guru selama ini adalah siswa hanya diberikan rumus untuk dihapal bahwa “jumlah luas persegi pada sisi siku-siku = luas persegi pada sisi miring” atau “jumlah kuadrat sisi siku-siku = kuadrat sisi miring”, dengan sering menuliskan a2 + b2 = c2.
Rumus tersebut seringkali membingungkan siswa karena ketika nama sisi-sisnya diubah siswa mengalami kesulitan untuk menyatakan hubungan sisi-sisinya. Atau jika gambar segitiga siku-sikunya posisinya diubah siswa sering menganggap bahwa sisi miring adalah sisi siku-sikunya.
Hal ini sebagai akibat dari pembelajaran selama ini  cenderung  disampaikan kepada siswa dengan cara praktis tanpa inovasi  sehingga siswa tidak memahaminya secara total. Siswa hanya menghapal rumus tapi tidak paham penggunaan rumus tersebut. 
Hal ini tidak terlepas pada orientasi pendidikan kita selama ini yang lebih mengedepankan aspek kognitif (UN) dan mengabaikan aspek lainnya. Kadang-kadang kondisi ini membuat guru apatis karena dengan cara praktis saja target kurikulum tidak tercapai, apalagi harus melakukan inovasi.
Namun sebenarnya banyak cara bisa kita coba maksimalkan untuk melakukan inovasi seperti yang telah coba saya lakukan, khususnya untuk materi pembelajaran berkaitan dengan Teorema Pythagoras. Jika selama ini pembuktian Pythagoras lebih banyak menggunakan perhitungan dengan persegi satuan atau model ”gunting – tempel”, saya mencoba mengggunakan media lain yaitu manik-manik (bisa biji-bijian atau apa saja) dan barang-barang bekas  yang dibuat siswa seperti pada gambar.  Selain itu juga dilakukan simulasi dengan menggunakan software Geogebra yang bisa didownload secara gratis.
Proses pembelajaran yang berlangsung menggunakan  pendekatan penemuan terbimbing dengan model campuran kooperatif. Dalam pembelajaran ini selain siswa belajar melalui pemahaman, siswa juga dilatih untuk  bekerjasama, toleransi dan keberanian dalam mengemukakan pendapat (presentasi).
Pembelajaran tersebut telah saya angkat dalam PTK (penelitian tindakan kelas) hingga saya mendapat kesempatan di Lomba Keberhasilan Guru (LKG) Tingkat Nasional Tahun 2009 kemarin.

Sabtu, 14 Februari 2009

Sudut-sudut Kongruen......????





Sudut kok kongruen satu sama lain… Apa bukan bangun yang kongruen…? Itulah pertama kali yang muncul di pikiran saya ketika akan menyusun Handout materi Kesebangunan dan Kongruensi. Istilah tentang SUDUT-SUDUT YANG KONGRUEN sendiri saya temukan ketika saya membaca buku Geometri terbitan Glencoe (yang telah saya singgung di posting sebelumnya).

Selama ini dalam pembelajaran kesebangunan dan kongruensi guru selalu dinyatakan bahwa pasangan sudut-sudut yang bersesuaian adalah sama besar dan dilambangkan dengan tanda =. Semua buku dari penerbit Indonesia memang tidak pernah menyebut istilah sudut-sudut kongruen, tetapi sudut-sudut sama besar.

Menurut pemahaman saya dari beberapa literatur tersebut memang ada penjelasan bahwa sudut yang kongruen, didefinisikan sebagai sudut-sudut yang sama besar. Hanya permasalahan ini kok tidak pernah disinggung baik oleh dosen saya dulu atau sampai sekarang. Dan menurut saya konsepnya sudah rancu secara turun temurun.

Bahkan ketika saya bertanya kepada rekan-rekan guru juga baru mendengar istilah sudut-sudut yang kongruen ketika saya menanyakan. Sebenarnya saya ingin menanyakan ketika kuliah, namun saya waktu itu tidak berani karena jangan-jangan pemahaman saya keliru (maklum pemahaman bahasa inggris saya minim…). Jangan-jangan lagi “dikerdilkan” oleh dosen.

Terus penasaran, akhirnya saya bertanya kepada Bp Fadjar Shadiq (Instruktur P4TK Matematika) Pertanyaan saya tersebut saya posting pada blog beliau tanggal 29 Januari 2009 berikut, dan berikut jawaban beliau pada 30 Januari 2009.

Untuk Ibu Mulyati, memang dalam literatur/buku Geometri terbitan luar negeri ada yang menggunakan istilah sudut kongruen (dengan lambang “kongruen”). Ya benar juga bahwa di Indonesia, digunakan notasi atau lambang “=”. Saya sependapat dengan Ibu bahwa sudut yang kongruen itu adalah sudut yang sama besar. Memang di dalam Matematika ada istilah Fakta atau kesepakatan.

Contohnya:



Saya pikir tidak akan rancu jika kita konsisten untuk menggunakan notasi yang dipilih. Akan rancu jika istilah yang digunakan berubah-ubah. Ya benar kita sudah sepakat untuk begitu. Istilah Ibu sudah terlanjur turun-temurun. Kalu diubah-ubah dan tidak konsisten malah akan kacau. Kecuali kita sepakat untuk mengubahnya.







Jumat, 13 Februari 2009

Pembelajaran Kesebangunan dan Kongruensi



TIDAK HARUS DENGAN POSTULAT

Selama ini dalam pembelajaran materi kesebangunan dan kongruensi di kelas IX SMP banyak guru yang sudah pakem menggunakan pembuktian bahwa dua segitiga dikatakan sebangun jika memenuhi persyaratan berikut: (1) Pasangan sisi-sisi yang bersesuaian dan (2) Pasangan sudut yang bersesuaian sama besar. Sedangkan untuk dua bangun dikatakan saling kongruen satu sama lain jika memenuhi postulat sss (sisi, sisi, sisi), s sd s (sisi, sudut, sisi), sd s sd (sudut, sisi sudut), s, s, sd (sisi, sisi, sudut) dan s, sd, sd (sisi, sudut, sudut).

Pola semacam itu sepertinya sudah turun temurun dilakukan guru termasuk penulis, sehingga siswa kadang-kadang memang terpola dengan menghapal dari apa yang kita berikan. Guru sering menggunakan pola semacam itu memang karena pada dasarnya tidak ingin bersusah payah keluar dari pakem buku pegangan guru. Karena mayoritas di dalam buku pegangan siswa terbitan dalam negeri tersebut menyajikan pola yang demikian. Padahal pola semacam itu tidak mendorong anak berpikir secara kritis (anak terbiasa dijejali dengan hapalan).

Memang benar, ketika penulis mendapat tugas untuk membuat semacam Handout materi Kesebangunan dan Kongruensi, saya berupaya mencari berbagai literatur. dari perpustakaan UNY dan akhirnya saya fotokopi untuk koleksi terbitan Glencoe yaitu: Geometry: Integration, Applications and Conectios. Boyd, J. Cindy, et al, 2001) dan Geometry: Concepts and Applications (Cummins, J.;et al.; 2001).

Dalam kedua buku tersebut kesebangunan dan kongruensi bentuk-bentuk geometri dapat dijelaskan melalui bentuk transformasi yaitu kesebangunan dengan dilatasi sedangkan kongruensi dengan refleksi, translasi dan rotasi.

Dua buah bangun dikatakan kongruen jika dan hanya jika tersusun dari refleksi, translasi atau rotasi dari bangun-bangun tersebut dengan bayangannya. Ketiga bentuk transformasi tersebut menghasilkan bangun yang sama bentuk dan ukurannya sama dengan benda aslinya. Kedua bangun (asli) dan bayangan (hasil transformasi) tersebut dinamakan saling kongruen.

Dengan demikian dua buah bangun dikatakan kongruen jika mempunyai bentuk dan ukuran yang sama. Dua bangun yang saling kongruen dilambangkan dengan tanda . Penerapan dalam bentuk kongruen ini bisa dihasilkan dari bentuk pengubinan atau pola-pola desain interior lainnya.

Untuk kesebangunan dapat dijelaskan juga dengan proses transformasi yaitu dilatasi. Dilatasi adalah perkalian (memperbesar atau memperkecil bangun), di mana suatu bangun dikalikan dengan bilangan tertentu yang disebut dengan faktor skala biasanya dilambangkan dengan k.

Dalam bangun-bangun hasil dilatasinya dan bangun aslinya, sudut-sudut yang bersesuaian kongruen, dan sisi-sisi yang bersesuaian mempunyai perbandingan yang sama, Bangun hasil dilatasi dengan benda aslinya mempunyai bentuk yang sama tetapi ukuran panjang sisinya berbeda. Kedua bangun tersebut disebut saling sebangun satu sama lain. Simbol kesebangunan dinyatakan sebagai “~ “.

Sayangnya di Indonesia sejak diberlakukan KBK hingga KTSP materi transformasi dihilangkan dari Standar Kompetensi (SK) yang harus diajarkan. Padahal sebenarnya pemahaman siswa, dengan proses itu akan lebih mudah dibanding menghapal postulat atau teorema. Sayangnya dalam pola-pola soal ujian juga dituntut seperti itu. Dan sayangnya lagi, guru juga tidak bisa berkutik dan sulit keluar dari pakem yang sudah melegenda turun temurun tersebut. Entah kenapa …?

Rabu, 28 Januari 2009

MENGINTEGRASIKAN SENI DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA




RANGKUMAN
PENELITIAN TINDAKAN KELAS
dengan judul:
MENGINTEGRASIKAN SENI ”GARBAGE” DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATERI BILANGAN PECAHAN PADA SISWA KELAS VII F SMP NEGERI 25 SURAKARTA TAHUN PELAJARAN 2007/2008
PENDAHULUAN
Bilangan pecahan merupakan materi yang sudah diajarkan kepada anak minimal kelas III SD, karena berhubungan dengan realitas kehidupan. Namun kenyataannya sampai saat masih banyak siswa mengalami kesulitan memahami konsep pecahan. Bukti empiris sulitnya pemahaman siswa tentang konsep pecahan tidak hanya di Indonesia, tetapi juga ditemukan pada sekolah-sekolah di Amerika seperti yang dimuat dalam Jurnal Teaching Children Mathematics terbitan The National Council of Teachers of Mathematics atau NCTM di mana bilangan pecahan merupakan “a stumbling-blog(batu sandungan) pada pengembangan pengetahuan murid. Misalnya siswa sulit mengubah pecahan ke desimal atau sebaliknya (Ollive John, 2002: 356). Hal senada juga terjadi di Malaysia (Munirah Ghazali, 2005) di mana hasil penelitian pada 406 murid usia 11 tahun dari berbagai sekolah menunjukkan hanya 34 % yang paham tentang konsep pecahan.
Hasil pengumpulan informasi awal penulis terhadap siswa kelas VII F (38 siswa) tahun 2008/2009 SMP Negeri 25 Surakarta menunjukkan 24 siswa (63,2 %) menganggap matematika itu sulit, di mana sebanyak 65,8 % menyatakan kesulitan pada materi bilangan pecahan. Alasannya sebanyak 47,4 % siswa menganggap guru tidak jelas menerangkan, 34,2 % menganggap memang materi pecahan sulit, dan 11 siswa (28,9 %) mengaku kurang teliti, sisanya mengaku kurang latihan (tidak belajar).
Secara umum kesulitan siswa muncul karena bilangan pecahan di Sekolah Dasar (SD) hanya diberikan aturan perhitungan simbol tanpa pengertian secara nyata (peragaan). Kesulitan juga muncul karena metode pembelajaran pecahan yang keliru, di mana pelajaran matematika bukan pelajaran bernalar tapi menghapal (Iwan Pranoto, 2007). Meskipun kurikulum berubah, pendekatan pembelajaran guru masih banyak menggunakan cara mengajar konvensional. Seperti pengalaman Ratini (2005) dalam buletin Pembelajaran Matematika Realistik Indonesia (PMRI) (www.pmri.or.id).
Pembelajaran pecahan biasanya dimulai oleh guru dengan menggambar lingkaran atau persegi di papan tulis, kemudian membuat garis tengah lingkaran atau garis yang membagi dua sama luas daerah persegi tadi. Lalu, salah satu bagian diarsir, kemudian guru mengatakan bahwa bagian yang diarsir itu adalah setengah dari seluruhnya dan menulis di sampingnya ½. Kemudian dilanjutkan dengan penjumlahan pecahan, siswa disuruh menjumlahkan, misalnya 1/4+2/4 = ¾, dan sering hanya menunjuk gambar di buku paket. Kadang-kadang siswa cenderung melihat angkanya saja, tidak memperhatikan gambarnya. Siswa melakukan penjumlahan tanpa tahu maknanya. Serba abstrak sehingga siswa mudah lupa.

HAKEKAT PEMBELAJARAN MATEMATIKA
Pembelajaran pecahan selama ini sangat bertentangan dengan prinsip belajar matematika, di mana mengharuskan siswa mempelajari matematika dengan pemahaman. Hal ini karena matematika bersifat hirarkis, yaitu materi matematika itu tersusun rapi, ada urut-urutannya mulai yang rendah ke tinggi atau dari yang tinggi ke yang rendah. Hal ini yang membedakan matematika dengan ilmu lain karena pengertian/konsep atau pernyataan/sifat matematika terjaga konsistensinya. Implikasinya pemahaman pada suatu konsep akan mempengaruhi pemahaman pada konsep berikutnya yang berkaitan. Pemahaman dikatakan terjadi jika pengetahuan yang ada dalam otak menjadi satuan-satuan yang terkoneksi satu dengan yang lain. Hal ini sejalan dengan pendapat Andersen, J.R., et al (2000) bahwa pengetahuan dibangun melalui konstruksi pengetahuan di otak siswa sehingga sehingga terbentuk hubungan dan saling keterkaitan antara materi,. Hal ini sesuai dengan teori belajar konstruktivisme yang diharapkan dalam KTSP. Karakteristik pembelajaran menurut pandangan konstruktivisme adalah (Boudourides, 2005):
  1. Menyediakan pengalaman belajar dengan mengkaitkan pengetahuan yang telah dimiliki siswa,
  2. Menyediakan berbagai alternatif pengalaman belajar (mengerjakan tugas berbeda atau penyelesaian masalah dengan berbagai cara,
  3. Mengintegrasikan pembelajaran dengan situasi realistik dan relevan dengan melibatkan pengalaman kongkrit dan mengaitkan dengan kehidupan sehari-hari (Contextual Teaching and Learning/CTL),
  4. Mengintegrasikan pembelajaran sehingga memungkinkan terjadinya interaksi dan kerja sama dengan orang lain atau lingkungannya,
  5. Memanfaatkan berbagai media, sehingga pembelajaran efektif,
  6. Melibatkan siswa secara emosional dan sosial sehingga matematika menjadi menarik dan siswa mau belajar,
Sayangnya pembelajaran siswa belum mencapai tujuan tersebut, karena banyak siswa hanya menghapal. Salah satu penyebabnya adalah ketidaktepatan pendekatan pembelajaran yang digunakan guru. Banyak guru masih menggunakan pembelajaran konvensional yang berorientasi pada tahap-tahap pembukaan-penyajian-penutup. Max A Sobel dan Evan M Maletsky,(2002: 1-2) menganggap pendekatan ini 3M, yaitu: Membosankan, Membahayakan, Merusak minat siswa.
Oleh karena itu guru harus mengubah pola pembelajaran 3M dengan cara menggiring peserta didik untuk menemukan konsep-konsep secara mandiri. Dengan demikian siswa diharapkan tidak hanya mampu secara kognitif tetapi juga membentuk nilai dan sikap matematis seperti: sistematis, fleksibel, imajinatif, kreatif, berminat, termotivasi, disiplin, jujur dan efektif (Mohammad Soleh,1998: 9). Dengan demikian dalam belajar matematika selain mampu merangsang kemampuan pikir (intelektual) juga mampu mengasah kemampuan emosional siswa sehingga fungsi otak kiri dan kanan siswa dapat berkembang secara optimal.

PERAN INTEGRASI SENI DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA
Seperti diketahui otak terbelah menjadi dua kiri dan kanan. Kedua belahan itu memiliki mekanisme yang berbeda dalam berpikir. Menurut Stephen Covey (dalam Moch Masykur dan Abdul Halim Fathani, 2007: 116). Penggunaan otak kiri merupakan spesifikasi cara berpikir yang logis, sekuensial, linear dan rasional. Otak kanan mewakili cara berpikir non verbal, seperti perasaan dan emosi, kesadaran spasial, penggunaan bentuk dan pola, musik, seni, kepekaan warna, kreativitas dan visualisasi.
Kedua fungsi belahan otak itu jika sama-sama dikembangkan dan digabungkan dalam pembelajaran maka siswa akan mampu mengembangkan kecerdasan-kecerdasan lainnya (emosional dan spiritual). Selama ini otak kanan dibiarkan menganggur sehingga intelektualitas siswa berkembang kurang seimbang. Anak hanya pandai berpikir dan menilai tapi kurang intuitif, kreatif, dan dinamis. Ada anggapan untuk mempelajari matematika hanya menggunakan otak kiri saja. Aktivitas matematika memang memerlukan logika dan kecerdasan otak, namun itu saja tidak cukup. Agar berkembang, matematika membutuhkan kreativitas dan intuisi seperti halnya seni dan sastra. (M. Masykur dan Abdul Halim F, 2007: 68).
Dengan demikian kemampuan intelektual semata tidak cukup untuk belajar matematika, tetapi perlu didukung dengan kemampuan emosional dan spiritual. Pola pikir deduktif dan logis dalam matematika sangat bergantung pada kemampuan intuitif dan imajinatif. Di saat membaca novel aktifitas emosional (hati) yang menikmati. Saat belajar matematika kadang hanya kemampuan intelektual yang digunakan. Ini menunjukkan bahwa kemampuan intelektual (pikir) sangat dipengaruhi kemampuan emosional dan spiritual (Abdusysyakir, 2007: 28-29). Oleh karena itu untuk mengingat materi matematika dengan baik perlu ada aktivitas menikmati dan merasakan, di samping aktivitas berpikir.
Sebagai implementasi harapan tersebut penulis berusaha menuangkan ide tentang integrasi seni “garbage” (sampah) dalam pembelajaran pecahan ke dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan tiga siklus. Siklus I bertujuan untuk mengetahui aktivitas, minat dan hasil belajar siswa, dalam mengikuti pembelajaran konsep dasar pecahan (pengertian bilangan pecahan, pecahan senilai dan urutan pecahan). Refleksi dari hasil pada siklus I, selanjutnya digunakan untuk melakukan tindakan pada siklus II yaitu pembelajaran konsep bentuk-bentuk pecahan dan cara mengubah pecahan ke bentuk lain (biasa, desimal, persen dan permil). Kegiatan pada siklus III dengan materi operasi pecahan. Masing-masing siklus mengintegrasikan seni (warna dan desain) menggunakan bahan-bahan sampah (garbage).
Penulis mengangkat masalah ini karena selama ini pembelajaran matematika saling asing dengan bidang ilmu yang lain seperti seni. Kurikulum bidang seni juga jarang diintegrasikan dengan pelajaran lainnya. Seni kadang-kadang hanya dihubungkan dengan menyanyi, menari dan menggambar. Selain itu penulis sepaham dengan beberapa pendapat tentang manfaat seni dalam matematika (www.mathartfun.com), di mana: (i) sangat baik untuk perkembangan otak, (ii) meningkatkan kecintaan peserta didik (orang secara umum) terhadap matematika, dan (iii) perintis pembelajaran matematika (dan seni) dari perspektif berbeda.
Penelitian relevan tentang manfaat media seni telah dilakukan Ramlan (2004), dan disimpulkan bahwa: (1) gambar seni yang diguakan sebagai media pembelajaran matematika, akan melahirkan aktivitas pada proses pembelajaran; dan dapat memberikan motivasi siswa untuk belajar; dan (2) Media gambar seni rupa apabila digunakan untuk pembelajaran matematika akan berpengaruh positif terhadap prestasi belajar siswa. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Aziz Omar, (2005) bahwa bahan manipulatif dapat digunakan untuk untuk menjelaskan sesuatu idea yang abstrak, sehingga mudah memahami suatu konsep. Dalam hal ini pecahan.

HASIL PENELITIAN
Secara kognitif, pendekatan pembelajaran meningkatkan peningkatan rata-rata hasil belajar pada siklus I (63,97), siklus II (67,39) dan siklus III (70,42). Sedangkan ketuntasan belajar yang dicapai siswa, pada siklus I (57,89 %), siklus II (73,68 %) dan siklus III(84,21 %) atau terjadi kenaikan ketuntasan belajar siswa sebesar 26,32 % dari siklus I ke siklus III.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa integrasi seni dalam pembelajaran matematika materi pecahan mampu meningkatkan hasil belajar siswa. Dengan memanfaatkan kreativitas, imajinasi dan intuisi mampu mengoptimalkan semua kecerdasan yang dimiliki siswa sehingga intelektualnya terasah. Integrasi seni ke dalam pembelajaran matematika juga memberi kesempatan murid berkreasi dengan pengalamannya memadukan seni dengan matematika dan menghubungkannya dengan kemampuan matematika pecahan. Dengan cara mengidentifikasi porsi warna, menurut desain mereka sendiri, murid akan merekonstruksi pengetahuannya untuk memahami konsep pecahan.
Hasil penelitian ini juga didukung oleh Farsi & Freiberger (2005: 6) dan Betts Paul (2003) di mana integrasi seni dalam pembelajaran matematika akan mengembangkan ketrampilan visual yang meningkatkan imajinasi dan kreativitas sehingga dapat meningkatkan aktivitas, minat dan hasil belajar siswa. Murid dapat meningkatkan aktivitasnya dengan model representasi bilangan pecahan yang bervariasi secara gambar, verbal, simbol dengan bilangan dengan manipulasi fisik menggunakan kotak dan warna dengan benda-benda di lingkungan sekitarnya. Selain itu keindahan dalam seni juga membantu intuisi dalam matematika yang akan membantu proses pencararian kebenaran dalam kehidupan siswa, sehingga menumbuhkan nilai-nilai kemanusian (humanisme) dalam diri siswa seperti kepedulian, empati dan tenggang rasa.