MULYATI'S BLOG

Guru biasa memberitahukan,
Guru baik menjelaskan, Guru ulung memperagakan,
Guru hebat mengilhami.
Pengalaman Pembelajaran Lesson Study KTI/PTKSoal MatInfo

Tampilkan postingan dengan label Pengalaman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengalaman. Tampilkan semua postingan

Minggu, 29 Mei 2011

Belajar Menjadi Guru Inovatif


PEMANFAATAN MEDIA ENVI-TECH  SEBAGAI UPAYA  MENINGKATKAN
HASIL BELAJAR MATEMATIKA  MATERI BANGUN RUANG SISI DATAR
PADA  SISWA  KELAS  VIII  A SMP N. 25 SURAKARTA
 
ABSTRAKSI
Latar belakang  penulisan karya ilmiah ini adalah kegelisahan penulis akan rendahnya hasil belajar siswa  tidak hanya dari aspek akademis (kognitif) tetapi juga aspek sikap (afektif) terhadap matematika.  Salah satunya berkaitan dengan kurang kreatifnya guru memilih media pembelajaran yang efektif dan menarik. Selain itu pembelajaran lebih banyak didominasi guru dengan ceramah, dan siswa tidak diberi kesempatan menemukan konsep yang dipelajarinya secara mandiri. Di kalangan siswa selama ini juga banyak yang menganggap matematika pelajaran sulit dan membosankan.
Tujuan penulisan ini adalah sebagai alternatif menjawab permasalahan  berkaitan rendahnya hasil belajar tersebut. Penulis mencoba melakukan inovasi pembelajaran dengan  menerapkan media ENVI-TECH (environent – technology) yaitu perpaduan berbagai media berbasis teknologi dengan memanfaatkan sumber belajar dan software pembelajaran dari internet dan media berbasis  lingkungan di sekitar siswa berupa benda-benda atau barang-barang tidak terpakai  seperti karton bekas, kalender bekas, kayu, lidi, tusuk es krim, dan lingkungan sekitar siswa.
Pemanfaatan dua basis media tersebut penulis terapkan pada materi bangun ruang sisi datar  pada kelas VIII A SMP N 25 Surakarta tahun 2009/2010. Pengalaman tersebut penulis tuangkan dalam laporan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) melalui 2 siklus ditunjang oleh literatur relevan dari berbagai sumber (buku teks, internet).
Penerapan media ENVI-TECH terbukti sangat efektif meningkatkan hasil belajar matematika baik secara kognitif maupun afektif. Secara kognitif  terjadi peningkatan ketuntasan belajar dari 62,50 % (sebelum tindakan) menjadi 72,50 % (siklus I) dan menjadi 87,50 % pada siklus II atau terjadi kenaikan sebesar 25 % dari sebelum tindakan  ke siklus II.               Rata-rata nilai siswa meningkat dari 62,88 (sebelum tindakan) menjadi 65,65 (siklus I) dan menjadi 71,73 pada siklus II atau naik sebesar 9,35 dari sebelum tindakan ke siklus II. .       Secara afektif pemanfaatan media ENVI-TECH juga dapat menumbuhkan kesan-kesan positif tentang matematika dan pengembangan nilai humanisme siswa  berupa kreatifitas, kerjasama, percaya diri dan tenggang rasa siswa terhadap siswa lain. Hal ini  membuktikan bahwa pemanfaatan media ini mampu memfasilitasi pembelajaran  yang efektif, efisien, interaktif  menyenangkan dan memotivasi peserta didik  untuk berpartisipasi aktif, dan mandiri sehingga menumbuhkembangkan  karakter peserta didik dalam belajar.
Oleh karena itu  sebagai guru penulis menyarankan agar dalam pembelajaran matematika hendaknya guru memanfaatkan berbagai media baik di sekolah maupun  di lingkungan sekitar  dalam pembelajaran matematika dan memadukannya secara integral. Bagi sekolah yang sudah ada fasilitas teknologinya dapat memadukan media di lingkungan dengan media yang berbasis teknologi, sehingga siswa termotivasi dan aktif belajar sehingga hasil belajarnya meningkat.

      
Kata Kunci: Media Lingkungan, Media Teknologi, Pembelajaran Matematika Bangun Ruang Sisi Datar


Jumat, 31 Desember 2010

THE 2nd EAST ASIAN INTERNATIONAL CONFERENCE 
ON TEACHER EDUCATION RESEARCH
Teacher Education for the Future: International Perspectives
at the Hong Kong Institute of Education
Hong Kong, 15 - 17 December 2010

Kamis, 02 Desember 2010

Sabtu, 06 Maret 2010

Sekolahku, Guruku: 24 Tahun Lalu dan Selamanya

NOSTALGIA SEKALIGUS BERBAGI PENGALAMAN

Pengalaman  indah  yang tidak akan pernah terlupakan dalam hidup saya karena pada Rabu, 8 Desember 2009 dan 3 Maret 2010 saya mendapat kesempatan langka bernostalgia di sekolah saya dulu karena saya diundang oleh MGMP Sanggar 10 Wonogiri untuk berbagi pengalaman menulis Penelitian Tindakan Kelas (PTK) di kegiatan MGMP BERMUTU (Better Education through Reformed Management and ersal Teacher Upgrading) yang kebetulan dipusatkan di SMP N. 1 Purwantoro.
Dari sekian jenjang sekolah yang sempat saya lalui, di sekolah inilah saya merasa "besar".. Bagaimana saya tidak merasa "besar" karena di sekolah ini pula masa-masa "kejayaan" saya raih, tepatnya sekitar 24 th lalu. Ya, di sekolah ini mulai kelas II saya sempat mencapai puncak prestasi tertinggi. Saya masih ingat ketika kelas II saya sempat mendapat peringkat I paralel hingga saya mendapat hadiah yang luar biasa (pada waktu itu), yaitu bebas SPP selama 6 bulan. Kalau tidak salah ingat waktu itu per bulannya hanya Rp3.000,00. Dan masih terbayang jelas ekspresi kebanggaan Bapak saya ketika rapat walimurid, namanya disebut-sebut.
Meski saat kelulusan nilai saya jatuh tapi alhamdulillah saya masih menduduki peringkat 7 besar paralel, dan saya bisa dengan mudah melenggang masuk sekolah favorit di Ponorogo yaitu SMA I. Meski Bapak saya harus susah payah ngurus ijin  Semarang –Surabaya, karena lintas propinsi.

Di SMP dulu semua pelajaran saya suka karena saya merasa semuanya menyenangkan, mulai Mengetik, Karawitan, Bahasa Indonesia (terutama sastra), IPA, IPS  sampai Bahasa Inggris dan Matematika. Dua pelajaran terakhir inipula yang sering membuat saya  “tersipu-sipu” dipuji karena sering mendapat nilai terbaik.
Tetapi yang sering membuat saya malu adalah  pada pelajaran IPS saya pasti mendapat nilai yang rendah untuk nilai murni. Meski saya sudah berusaha belajar sampai ngumpulin soal-soal penyelesaian  waktu itu saya tidak pernah mendapat nilai yang baik di pelajara ini. Padahal wali kelas saya waktu itu (Pak Mulyono) mengampu IPS. Bapak saya waktu itu juga sempat merasa “pekewuh” kala mengambil raport karena nilai IPS saya selalu terjelek di antara mapel lainnya. Di nilai EBTA NAS murni saya pun nilai IPS saya terjelek. Entahlah, saya sendiri juga heran meski belajar keras selalu saja nilai IPS saya yang terjelek.
Untuk Matematika di SMP dulu adalah pelajaran yang paling mengesankan. Tanpa mengabaikan jasa guru-guru Matematika yang lain, guru saya waktu itu (Pak Tanto) yang paling membuat saya berkesan. Beliau mengampu kelas saya saat saya kelas III. Dengan gaya dan caranya yang inovatif pelajaran Matematika bukan sesuatu yang menakutkan bagi saya dan teman-teman waktu itu. Satu hal yang sampai sekarang saya dan teman-teman masih ingat adalah cara beliau menyampaikan konsep Trigonometri tentang nilai-nilai Trigonometri Sin, Cos dan Tangen di tiap kuadran. Waktu itu untuk memudahkan kami mengingat nilai-nilai yang positif di tiap kuadran beliau membuat singkatan Co Tang Si Al, yaitu nilai-nilai positif mulai dari kuadran IV. Nilai-nilai itu mudah sekali diingat karena Co Tang (dibaca “kotang”, dalam bahasa Jawa “kotang” (maaf) sangat familiar dan berarti pakaian dalam (BH). Meski terkesan negatif tapi ternyata singkatan itu dulu banyak membantu teman-teman saya dalam menyelesaikan soal-soal Matematika (Trigonometri).
Sebenarnya banyak kisah-kisah lucu, menarik dan mengisnpirasi saya ketika SMP dulu, dan kisah-kisah itu kini ketika saya baru saja ketemu lagi dengan beliau-beliau sungguh masih tergambar jelas.  Dan kebanggaan beliau atas apa yang saya capai sekarang ini adalah apresiasi yang luar biasa untuk saya selain doa restu beliau-beliau yang rela datang di hari pernikahan saya 10 tahun lalu.
Ketika bertemu kembali dengan beliau saya merasa, ternyata menjadi guru bisa awet muda. Nyatanya kala saya ketemu guru-guru saya, sepertinya masih sama dengan yang saya temui 24 tahun lalu. Apa muridnya yang cepet tua, entahlah. Yang jelas dari beliau-beliau inilah sampai saya bisa begini. Terimakasih Bapak/Ibu Guruku, engkau telah mengantarkanku mengikuti jejakmu yang sungguh mulia. Semoga jasamu menginspirasiku selamanya.

Sabtu, 27 Februari 2010

Kejutan Terindah dari Anak Didikku (2)


PELAJARAN BERHARGA 
TETANG MAKNA BERBAGI DAN MENGHARGAI (2)
 

Hari Selasa,  jam pertama adalah jadwal saya di kelas 9A Selama ini anak-anak kelas 9 A  sudah paham betul kebiasaan saya. Saya paling tidak suka jika waktu mau mulai pelajaran anak-anak belum siap dan  masih jadi "mandor" di depan kelas atau "inguk-inguk" di depan pintu. Anak-anak kelas lain pun, meski bukan kelas yang saya ampu, jika melihat saya lewat pada saat menjelang jam pelajaran mereka akan segera masuk kelas, karena mereka sudah tahu, pasti akan saya "oyak-oyak" untuk segera masuk. Ini adalah salah satu cara saya membiasakan mereka tertib, selain dalam hal kerapian berpakaian.
Kebiasaan saya ini sengaja saya terapkan karena untuk memulai belajar, semestinya anak-anak ditumbuhkan sikap  dan kesadaran diri yang baik. Dan kesadaran diri ini akan tumbuh kalau dibiasakan.
Tapi hari itu  Selasa, 23 Februari 2010 adalah hari yang hampir membuat saya tersipu malu. Bagaimana tidak, ketika saya masuk kelas 9A memang tidak ada anak-anak di depan pintu, tapi pas di kelas ada sekitar separuh anak perempuan belum duduk di mejanya. Ketika saya tanyakan ke mana mereka, sebagian menjawab di belakang. Ada juga yang menjawab "jajan bu". Jawaban terakhir  ini yang membuat saya jengkel dan menahan marah.
Beruntung saya berusaha menahan diri, dan diam saja berdiri memandangi mereka. Anak-anak, juga diam tanpa ekspresi. Saat saya hanya diam tersebut, tiba-tiba dari depan pintu ada serombongan anak membawa kue ulangtahun. Satu kelas akhirnya mennyanyikan lagu ulang tahun untuk saya. Saking riuhnya kelas lain yang olahraga di lapangan sempat menengok ke kelas. 
Dan untuk kedua kalinya saya hanya menangis haru... melihat ketulusan mereka.
Dua hari berturut-turut saya telah mendapat pelajaran berharga dari mereka. Terimakasih anak-anakku, di balik kenakalan dan ulah mereka yang kadang membuat saya jengkel. Mereka berhati mulia. Mereka telah memberikan pelajaran berharga tentang berbagi dan menghargai kepada gurunya dengan cara mereka. Meski tanpa inipun anak-anak sudah menunjukkan bahwa apa yang saya tanamkan selam ini, telah menyentuh sanubari mereka. Meski  prestasi akademik mereka belum maksimal, tapi paling tidak rasa kebersamaan dan penghargaan mereka kepada orang lain, merupakan nilai yang lebih berharga dari segalanya.

Kejutan Terindah dari Anak Didikku (1)

PELAJARAN BERHARGA 
TETANG MAKNA BERBAGI DAN MENGHARGAI (1)


Seperti biasa hari Senin (22 Feb 2010) saya masuk kelas VIII A  pada jam ketiga. Saya agak molor dari biasanya karena ketika di luar banyak anak-anak yang menghampiri untuk sekedar mengucapkan selamat ulang tahun kepada saya seperti pada ulang tahun saya sebelumnya. 
Saat memasuki kelas VIII A seperti biasa saya menyapa anak-anak  dan tak lupa mengucapkan termakasih kepada anak-anak dan  beberapa orang tuanya  yang telah mengirimkan sms  dan  menulis di wall FB  saya malam dan pagi harinya. Saya juga menyampaikan syukur tak terhingga  bahwa ternyata masih banyak sekali yang peduli dengan saya, terbukti dengan banyaknya pesan lewat wall  FB yang lebih dari 100- an. Ketika saya sampaikan ucapan terimakasih  untuk diteruskan ke orangtuanya. Semua anak-anak cuma diam dan tanpa ekspresi.
Saya melanjutkan pelajaran seperti biasa. Kebetulan hari itu materinya melukis lingkaran luar dan lingkaran dalam segitiga. Anak-anak ya asyik saja melukis sesuai yang saya tunjukkan. Sampai saatnya istirahat saya juga masih bertanya-tanya dalam hati. "Kok, anak kelas VIII A nggak ada yang nyalami saya", padahal pagi harinya banyak yang ngirim SMS.
Pertanyaan itu akhirnya terjawab  ketika sehabis istirahat pertama hanya ada satu anak yang megangin pintu. Dan ketika saya mau masuk, dilarang "Bentar bu, tunggu lima menit saja". Setelah lima menit, belu sempat masuk saya sudah curiga, ada sesuatu karena semua korden di tutup rapat., hingga kelas hanya remang-remang. Dan ternyata... sambutan meriah tulisan besar-besar di papan tulis dan kue tar plus lilin di atasnya sudah menantidi atas meja guru...Nyanyian ulang tahunpun menggema di ruang kelask saya pagi itu.
Saya tak mampu berkata apa-apa selain berdiri terpaku. Tak terasa saya menangis haru. Acara selanjutnya saya hanya menurut saja ketika anak-anak meminta saya memotong kue. Dan seperti sutradara seinetron mereka mengarahkan saya untuk membagikan kue kepada anak-anak untuk difoto satu per satu. Sore harinya foto-foto mereka sebagian sudah saya upload dalam album  di FB saya.
Terimakasih anak-anakku, kau telah memberi pelajaran yang begitu indah kepada gurumu.

Jumat, 26 Februari 2010

TEMU AKBAR DAN SEMINAR PENDIDIKAN MATEMATIKA

Tema:
"Aplikasi Assesment for Learning  (AFL) dalam Pembelajaran Berbasis Konstruktivisme untuk Meningkatkan  Profesionalisme Guru Matematika"
  MGMP Matematika SMP Kota Surakarta
di Balai Muhammadiyah Surakarta, 17 Februari 2010

  
 
  
  
 
Keynote Speaker Prof. Dr Budyono MSc mengambil undian doorprize berupa 3 buah Hanphone

NB: Maaf ya... nggak sempat nulis ...  posting foto aja yah...

Selasa, 02 Februari 2010

Belajar Menjadi Guru Inovatif (1)


MEMBUKTIKAN TEOREMA PYTHAGORAS:
TIDAK (HARUS) MENGGUNTING DAN MENEMPEL

Kutipan  Karya:
Juara II LKG Tk Nasional 2009 (Kel Sains):

PENDEKATAN I-TESA DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA
SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN SIKAP POSITIF
DAN HASIL BELAJAR TEOREMA PYTHAGORAS



Materi pembelajaran Teorema Pythagoras merupakan materi pembelajaran kelas VIII SMP semester II yang berkaitan dengan konsep geometri. Pola pengajaran Pythagoras yang sering dilakukan guru selama ini adalah siswa hanya diberikan rumus untuk dihapal bahwa “jumlah luas persegi pada sisi siku-siku = luas persegi pada sisi miring” atau “jumlah kuadrat sisi siku-siku = kuadrat sisi miring”, dengan sering menuliskan a2 + b2 = c2.
Rumus tersebut seringkali membingungkan siswa karena ketika nama sisi-sisnya diubah siswa mengalami kesulitan untuk menyatakan hubungan sisi-sisinya. Atau jika gambar segitiga siku-sikunya posisinya diubah siswa sering menganggap bahwa sisi miring adalah sisi siku-sikunya.
Hal ini sebagai akibat dari pembelajaran selama ini  cenderung  disampaikan kepada siswa dengan cara praktis tanpa inovasi  sehingga siswa tidak memahaminya secara total. Siswa hanya menghapal rumus tapi tidak paham penggunaan rumus tersebut. 
Hal ini tidak terlepas pada orientasi pendidikan kita selama ini yang lebih mengedepankan aspek kognitif (UN) dan mengabaikan aspek lainnya. Kadang-kadang kondisi ini membuat guru apatis karena dengan cara praktis saja target kurikulum tidak tercapai, apalagi harus melakukan inovasi.
Namun sebenarnya banyak cara bisa kita coba maksimalkan untuk melakukan inovasi seperti yang telah coba saya lakukan, khususnya untuk materi pembelajaran berkaitan dengan Teorema Pythagoras. Jika selama ini pembuktian Pythagoras lebih banyak menggunakan perhitungan dengan persegi satuan atau model ”gunting – tempel”, saya mencoba mengggunakan media lain yaitu manik-manik (bisa biji-bijian atau apa saja) dan barang-barang bekas  yang dibuat siswa seperti pada gambar.  Selain itu juga dilakukan simulasi dengan menggunakan software Geogebra yang bisa didownload secara gratis.
Proses pembelajaran yang berlangsung menggunakan  pendekatan penemuan terbimbing dengan model campuran kooperatif. Dalam pembelajaran ini selain siswa belajar melalui pemahaman, siswa juga dilatih untuk  bekerjasama, toleransi dan keberanian dalam mengemukakan pendapat (presentasi).
Pembelajaran tersebut telah saya angkat dalam PTK (penelitian tindakan kelas) hingga saya mendapat kesempatan di Lomba Keberhasilan Guru (LKG) Tingkat Nasional Tahun 2009 kemarin.

Kamis, 31 Desember 2009

AKU NGEBLOG (lagi) KARENA AKU ADA… (2)

REFLEKSI JEJAK AKHIR TAHUN 2009 (2)

Rehat sejenak untuk kembali mengajar, ternyata dalam waktu bersamaan saya mendapat pemberitahuan untuk mengikuti final Lomba Kreasi dan Inovasi Media di Cipayung (9 – 13 November 2009) dan Lomba Inovasi Pembelajaran di Semarang (10 – 12 November 2009). Karena waktu bersamaaan akhirnya saya memilih berangkat ke Cipayung dan meninggalkan even lomba yang tingkat provinsi.
Meski dengan kondisi yang tidak fit saya bisa mengikuti kegiatan final dengan baik. Alhamdulillah meski sempat kecewa dengan kriteria penilaian media yang tidak begitu jelas saya bersyukur mendapat kesempatan di antara 30 orang pemenang (dari 6 mata pelajaran) diundang Mendiknas (Bp. Muh Nuh) dan Dirjen Pembinaan SMP (Prof Suyanto) untuk dialog di gedung Depdiknas di Senayan sehingga saya harus menginap lagi semalam di Jakarta sementara peserta lain bisa pulang. Di sela-sela dialog dengan Pak Dirjen ini pula saya kembali bersemangat karena dihubungi panitia bahwa naskah saya masuk final LKG 2009.
Pagi harinya saat mau pulang meninggalkan hotel Melawai Blok M saya sudah dihubungi suami bahwa ada surat tugas lagi dari Dinas DIKPORA Solo untuk mengikuti Diseminasi Hasil Lomba Provinsi (23 November 2009) yang kegiatan lombanya sendiri tidak sempat saya ikuti. Kegiatan ini ternyata berbuntut juga dengan undangan Seminar Nasional dalam rangka Hari Guru (26 Desember 2009), hingga baru 2 hari masuk sekolah saya harus meninggalkan anak didik saya lagi.
Perjalanan "dinas" saya di tahun 2009 berakhir ketika tanggal (28 Nov – 2 Des 2009) kemarin saya mengikuti Final LKG Tk Nasional 2009 yang diselingi dengan Puncak Peringatan Hari Guru tanggal 1 Desember 2009 bersama Presiden SBY di lapangan Tenis Indoor Senayan. Alhamdulillah meski pemenangnya tidak dikategori per mata pelajaran (seperti tahun 2008) saya sangat bersyukur mendapat kesempatan di urutan ke-2 untuk kelompok SMP Sains (Matematika, Fisika dan Biologi).
Barangkali akhir tahun 2009 kemarin benar-benar saya syukuri sebagai “Hari Guru” untuk saya karena kesempatan yang diberikan Allah SWT yang begitu luar biasa untuk saya. Meski di hati saya timbul rasa bersalah harus meninggalkan anak didik, namun saya berpikir kesempatan tidak akan datang dua kali. Saya rasa ini juga proses belajar saya yang pada akhirnya untuk meningkatkan kualitas pelayanan untuk anak didik saya. Berulangkali saya bersyukur dengan materi yang saya desain sedemikian rupa mereka bisa belajar meski tanpa saya hadir di hadapan mereka.
Mungkin itulah jejak-jejak “pembenaran” yang bisa saya gunakan untuk menyapa para sahabat blogger yang barangkali sudah hampir melupakan saya. Oleh-oleh dari masing-masing perjalanan saya insyallah akan meramaikan blog ini berikutnya dan mudah-mudahan dapat bermanfaat bagi pembaca yang membutuhkan.

AKU NGEBLOG (lagi) KARENA AKU ADA… (1)

REFLEKSI JEJAK AKHIR TAHUN 2009 (1)





Akhirnya di awal tahun 2010 ini saya bisa menyapa para sahabat blogger dan menengok blog saya lagi setelah berbulan-bulan lamanya saya biarkan terbengkalai. Barangkali seperti halnya kebiasaan orang-orang yang tidak pandai memenej waktu seperti saya, sayapun berusaha mencari “pembenaran” dari aktifitas “safari keliling” (sindiran sahabat saya di Facebook) yang telah saya jalani.



Semester 1 tahun pelajaran 2009/2010 merupakan bulan-bulan yang sangat membuat saya (sok) sibuk luar biasa. Belum selesai “kontrak” saya di Program Sertifikasi Jalur Pendidikan UNY saya sudah harus memegang amanah untuk mengajar 24 jam di sekolah sementara ujian akhir sertifikasi juga memerlukan persiapan yang tidak kalah penting. Sejak saat itu saya sulit membagi waktu sehingga tidak bias menuliskan jejak-jejak aktifitas saya di blog.



Maklum sambil mempersiapkan ujian di UNY saya juga menyempat-nyempatkan diri untuk melakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dan menyiapkan laporannya untuk mengadu nasib di LKG 2009 yang ternyata deadline 30 Agustus (dimajukan 1 bulan disbanding tahun 2008). Meski merepotkan ternyata even-even semacam LKG kok sayang untuk ditinggalkan. Belum lagi dapat info baru lomba yang lain lagi yaitu Lomba Kreasi dan Inovasi Media Pembelajaran SMP TK Nasional dan Lomba Karya Ilmiah Inovasi Pembelajaran tingkat Propinsi yang deadlinenya bareng tanggal 30 September 2009. Namanya trial error saya mengirimkan naskah untuk ketiga evn sekaligus. Alhamdulillah meski dengan susah payah dan harus begadang di bulan puasa, dengan hasil karya yang tidak saya bisa mengirimkan naskah “tepat waktu” (pas batas akhir pengirman).



Sedikit lega bisa istirahat beberapa hari, disusul kegiatan pemberdayaan MGMP Matematika di mana saya kejatah untuk mengisi materi TIK termasuk mengajak guru GO BLOG. Meski modal pengetahuan pas-pas-an alhamdulilah para peserta juga merasa puas dan saya berhasil memprovokatori rekan-rekan saya di Solo agar tidak gaptek. Alhamdulillah di antara mereka banyak yang berlanjut sharing di email dan facebook, dan berdiskusi masalah pembelajaran matematika.



Di sela-sela itu ternyata dapat mandat untuk mewakili koperasi sekolah mengikuti Bimbingan Teknis Pengurus Koperasi di Semarang dilanjutkan kunjungan lapangan ke Kab. Pati Rembang dan Kudus (19 – 24 Oktober 2009). Belum sempat pulang ke rumah dah nyusul pemberitahuan lagi untuk “Pengukuhan sebagai Guru (Insyaallah) Profesional” di UNY tanggal 26 Oktober 2009.



BERSAMBUNG...

Minggu, 19 April 2009

Mereka Mampu Jika Diberi Kesempatan

SULITNYA MENUMBUHKAN KEBERANIAN BERTANYA

Waktu saya SD atau SMP dulu kalau ada murid yang banyak bertanya kepada guru, sering murid tersebut dicap anak cerewet atau usil. Mungkin juga sampai sekarang hal itu masih banyak terjadi . Karena masih banyak juga rekan-rekan guru yang memegang teguh paradigma JADUL itu dan tidak senang dengan murid yang banyak bertanya.

Tapi bagi saya, jika ada murid saya yang bertanya justru itu suatu kebanggaan yang patut saya apresiasi. Anak yang mau bertanya, sering saya puji. Tapi sayangnya selama 12 tahun menjadi guru, dari tahun ke tahun saya selalu menghadapi kendala yang sama. Mayoritas murid-murid saya susah sekali mengajukan pertanyaan, padahal saya tahu mereka tidak tahu. Murid saya (atau barangkali murid-murid di sekolah lain) susah sekali mengungkapkan ketidaktahuannya. Entah paham atau tidak ketika saya menerangkan atau mereka mempelajari materi tertentu. Yang jelas mereka diam, masa bodoh dan cuek. Hasil ulangan jelek juga kayaknya tidak menjadi beban, atau malah tak peduli, Ini yang kadang-kadang membuat saya gemes dan geregetan.

Saya sendiri bingung, berbagai macam jurus dicoba ternyata sulit sekali bertanya apalagi menanggapi (Mungkin murid-murid sekolah lain, hal ini adalah hal sepele) Entahlah apa sebabnya, atau barangkali mereka sudah terbiasa dengan kondisi pembelajaran sebelumnya, takut mereka dicap anak cerewet atau lainnya.

Berkat pengalaman saya melakukan Pemantapan Kemampuan Mengajar (PKM) akhir-akhir ini saya sering mengubah strategi mengajar dengan tidak menjelaskan materi secara konvensional. Meski dengan ini saya harus susah payah menyiapkan lembar kegiatan sendiri. Saya coba menerapkan model pembelajaran kooperatif tanpa tipe. Saya sebut tanpa tipe karena saya tidak mau terpaku pada aturan-aturan model pembelajaran kooperatif yang lagi trend saat ini seperti STAD, JIGSAW, TGT dan lain-lain. Bukan berarti ingin melanggar aturan, namun yang terpenting bagi saya saat ini adalah membangun keberanian mereka bertanya atau berpendapat, membangun motivasi dan kepedulian mereka dulu.

Saya tidak terlalu ketat menerapkan prosedur-prosedur pada model pembelajaran kooperatif, tapi yang penting siswa enjoy belajar menemukan konsep yang dipelajari. Secara tidak langsung mereka juga belajar bekerjasama, saling berbagi dan menghargai hasil kerja teman-temannya. Sehingga mereka tidak hanya mengisi otak kirinya saja tetapi otak kanan dan hatinya.

Di akhir kegiatan mereka saya beri kesempatan presentasi secara kelompok, dan mereka sendiri memilih siapa presenter dan moderatornya juga pembagian tugas mereka yang menanggapi pertanyaan. Saya tekankan juga, meski mereka bekerja secara kelompok, namun penilaian individual tetap penting. Saya tunjukkan juga indikator-indikator apa yang menjadi poin penilaian saya.

Dan saya syukuri, ternyata waktu presentasi kelompok mereka saling berebut bertanya atau menanggapi (Meskipun mayoritas mereka asal nyeletuk, tapi yang jelas mereka sudah ada usaha). Dan usaha itu yang patut saya apresiasi.Ternyata asal diberi kesempatan mereka juga mau ada sedikit usaha. Meski usaha tersebut hanya membuahkan sedikit hasil juga.Saya katakan sedikit hasil, karena saya tidak tahu pasti hasil tes akademiknya mungkin tidak memenuhi harapan (Kepala Sekolah), tetapi paling tidak murid-murid saya paham bahwa:

Tidak tahu itu sesuatu yang wajar dan bukanlah hal yang memalukan, sehingga untuk mencari solusinya ya bertanyalah,

Selain itu belajar bukanlah membiarkan murid dijajah oleh rezim otak kiri, tetapi belajar adalah ibarat melintasi segitiga emas: OTAK KIRI, OTAK KANAN DAN HATI, sehingga ketiganya harus saling bersinergi, tidak boleh saling mendominasi.

Rabu, 18 Maret 2009

I'm Very Happy

KESAN YANG MENGHARUKAN

(Bagian II)

Andi Setiawan

Enak, dan adanya kerja kelompok menjalin eratnya persahabatan teman-teman. Semoga pelajaran matematika tidak hanya dipelajarin tapi dipraktekkan.

Ihsan Yunanto

Saya bisa mengerti bentuk-bentuk jaring-jaring prisma dan limas secara jelas. Pesan saya diperbanyak lagi penemuannya agar lebih jelas lagi dan tambah mengerti.

Himawan P.

Bagus, karena pelajaran semacam ini menyenangkan karena diselingi dengan bermain. Lebih diperpanjang lagi waktunya.

Fauzi Wahyu Niko N.

Supaya program belajar seperti ini lebih dikembangkan. Belajar seperti ini menyenangkan, lebih asyik dan seru.

Herman Prasetyo

Bisa mengerti lebih jelas tentang bangun-bangun ruang.

Yanuar Ahmad

Enak dan menyenangkan karena tiap kali pelajaran menggunakan benda praktek. Kalau bias waktunya ditambah.

Inung

Senang, karena belajar sambil bermain dan tidak membosankan. Pesan: Ibu kembali ke sini lagi…

Panca Ayu Listyorini

Enak mengajarnya dengan cara dipraktekkan dan dipresentasikan. Jadi membuat siswa yang sebelumnya diam menjadi aktif, dan membuat siswa lebih akrab dengan teman lainnya. Waktunya lebih banyak dan jangan terburu-buru.

Laila Wanahar Nadya

Menyenangkan karena memberikan materinya dengan cara bermain sambil belajar. Jadinya membikin kita untuk tidak bosan belajar matematika dan pesan saya agar metode pembelajaran ini dijalankan dengan lebih lagi…Materi yang diberikan selama ini cukup bagus, apalagi dengan metode pembelajarannya bermain-main sambil belajar. Dan metode ini cukup menyenangkan sehingga kita mengerti tentang bangun jarring-jaring.

Retno

Suka, karena belajar sambil bermain kita jadi lebih mudah menjangkau dalam pelajaran dan bias lebih mudeng lagi dan tidak membosankan. Ibu jangan lupa kembali ke sekolah ini… Semoga menjadi orang yang sukses.

Wimo

Saya senang jika belajar menggunakan metode pembelajaran ini karena saya akan mudah memahami materi yang diberikan. Sebaiknya setiap kelompok diawasi oleh setiap guru agar siswa lebih mudah memahami materi yang diberikan.

Rachmad Ardi Prakoso

Cara mengajarnya sangat menyenangkan sehingga siswa sering belajar bersama-sama dan tidak selalu dengan teman itu-itu saja…

Ghina Zahra

Pembelajaran kelompok ini sangat menyenangkan, karena kita bisa belajar dengan santai tetapi tetap paham. Juga bias melatih kerjasama, kekompakan dalam berkelompok.

Bella Chrisna Maharani

Saya senang bias bermain sambil belajar dengan guru dari Solo karena membuat saya lebih paham. Saya jadi lebih mengetahui tentang bangun datar. Kenapa gak ada bangun lengkung seperti tabung dan lingkaran? Walaupun gak digambar tetapi diberi materi dan tugas saja.

Rhomadan Ika Febriansyah

Saya sangat senang dengan diskusi kelompok ini karena bias menambah rumus matematika. Ibu guru harus menerangkan jarring-jaring bangun ruang lebih banyak lagi.

Zumi Hanifa

Pembelajarannya sangat menyenangkan karena dapat belajar bekerjasama dengan teman dan dapat berpikir dengan cara mengasyikkan. Metode dengan bermain dan bekerjasama sangat menyenangkan. Bu, jangan lupa sama anak VIII B dan kapan-kapan mampir ke SMP 15 lagi. Jika anak VIII B salah kami minta maaf ya bu…

Asandri Meidiningrum

Buat semuanya yang seru dunk!! Memang pelajarannya seru, tapi khan ga’ afdol kalo gurunya ga’ seru. Sering-sering ke Mabelta ya bu. Jangan sering-sering kasih PR. Aku suka dengan system pembelajaran kayak gini. Cz seru sich… I am very happy.

Rizal Kurniawan

Kalau mengajar jangan terlalu galak. Waktu untuk mengerjakan soal diperpanjang dong. Saya kira cara mengajarnya sudah bagus dan cepat dimengerti.

Anisa Bugi Yunara

Kesan saya terhadap Bapak Ibu guru yang selama tiga minggu ini sudah mengajar adalah cukup baik. Karena telah mengulang kembali pelajaran sat SD yang sudah saya lupa. Cukup member ketenangan saat belajar.