Hari Selasa, jam pertama adalah jadwal saya di kelas 9A Selama ini anak-anak kelas 9 A sudah paham betul kebiasaan saya. Saya paling tidak suka jika waktu mau mulai pelajaran anak-anak belum siap dan masih jadi "mandor" di depan kelas atau "inguk-inguk" di depan pintu. Anak-anak kelas lain pun, meski bukan kelas yang saya ampu, jika melihat saya lewat pada saat menjelang jam pelajaran mereka akan segera masuk kelas, karena mereka sudah tahu, pasti akan saya "oyak-oyak" untuk segera masuk. Ini adalah salah satu cara saya membiasakan mereka tertib, selain dalam hal kerapian berpakaian.
Kebiasaan saya ini sengaja saya terapkan karena untuk memulai belajar, semestinya anak-anak ditumbuhkan sikap dan kesadaran diri yang baik. Dan kesadaran diri ini akan tumbuh kalau dibiasakan.
Tapi hari itu Selasa, 23 Februari 2010 adalah hari yang hampir membuat saya tersipu malu. Bagaimana tidak, ketika saya masuk kelas 9A memang tidak ada anak-anak di depan pintu, tapi pas di kelas ada sekitar separuh anak perempuan belum duduk di mejanya. Ketika saya tanyakan ke mana mereka, sebagian menjawab di belakang. Ada juga yang menjawab "jajan bu". Jawaban terakhir ini yang membuat saya jengkel dan menahan marah. Beruntung saya berusaha menahan diri, dan diam saja berdiri memandangi mereka. Anak-anak, juga diam tanpa ekspresi. Saat saya hanya diam tersebut, tiba-tiba dari depan pintu ada serombongan anak membawa kue ulangtahun. Satu kelas akhirnya mennyanyikan lagu ulang tahun untuk saya. Saking riuhnya kelas lain yang olahraga di lapangan sempat menengok ke kelas.
Dan untuk kedua kalinya saya hanya menangis haru... melihat ketulusan mereka.
Dua hari berturut-turut saya telah mendapat pelajaran berharga dari mereka. Terimakasih anak-anakku, di balik kenakalan dan ulah mereka yang kadang membuat saya jengkel. Mereka berhati mulia. Mereka telah memberikan pelajaran berharga tentang berbagi dan menghargai kepada gurunya dengan cara mereka. Meski tanpa inipun anak-anak sudah menunjukkan bahwa apa yang saya tanamkan selam ini, telah menyentuh sanubari mereka. Meski prestasi akademik mereka belum maksimal, tapi paling tidak rasa kebersamaan dan penghargaan mereka kepada orang lain, merupakan nilai yang lebih berharga dari segalanya.
PELAJARAN BERHARGA TETANG MAKNA BERBAGI DAN MENGHARGAI (1)
Seperti biasa hari Senin (22 Feb 2010) saya masuk kelas VIII A pada jam ketiga. Saya agak molor dari biasanya karena ketika di luar banyak anak-anak yang menghampiri untuk sekedar mengucapkan selamat ulang tahun kepada saya seperti pada ulang tahun saya sebelumnya.
Saat memasuki kelas VIII A seperti biasa saya menyapa anak-anak dan tak lupa mengucapkan termakasih kepada anak-anak dan beberapa orang tuanya yang telah mengirimkan sms dan menulis di wall FB saya malam dan pagi harinya. Saya juga menyampaikan syukur tak terhingga bahwa ternyata masih banyak sekali yang peduli dengan saya, terbukti dengan banyaknya pesan lewat wall FB yang lebih dari 100- an. Ketika saya sampaikan ucapan terimakasih untuk diteruskan ke orangtuanya. Semua anak-anak cuma diam dan tanpa ekspresi.
Saya melanjutkan pelajaran seperti biasa. Kebetulan hari itu materinya melukis lingkaran luar dan lingkaran dalam segitiga. Anak-anak ya asyik saja melukis sesuai yang saya tunjukkan. Sampai saatnya istirahat saya juga masih bertanya-tanya dalam hati. "Kok, anak kelas VIII A nggak ada yang nyalami saya", padahal pagi harinya banyak yang ngirim SMS.
Pertanyaan itu akhirnya terjawab ketika sehabis istirahat pertama hanya ada satu anak yang megangin pintu. Dan ketika saya mau masuk, dilarang "Bentar bu, tunggu lima menit saja". Setelah lima menit, belu sempat masuk saya sudah curiga, ada sesuatu karena semua korden di tutup rapat., hingga kelas hanya remang-remang. Dan ternyata... sambutan meriah tulisan besar-besar di papan tulis dan kue tar plus lilin di atasnya sudah menantidi atas meja guru...Nyanyian ulang tahunpun menggema di ruang kelask saya pagi itu.
Saya tak mampu berkata apa-apa selain berdiri terpaku. Tak terasa saya menangis haru. Acara selanjutnya saya hanya menurut saja ketika anak-anak meminta saya memotong kue. Dan seperti sutradara seinetron mereka mengarahkan saya untuk membagikan kue kepada anak-anak untuk difoto satu per satu. Sore harinya foto-foto mereka sebagian sudah saya upload dalam album di FB saya.
Terimakasih anak-anakku, kau telah memberi pelajaran yang begitu indah kepada gurumu.
Tulisan ini sebenarnya bahan postingtanggal 21 April 2009, tetapi karena mbak Inet beberapa hari ini lagi ogah-ogahan, ya terpaksa tulisan ini baru nongol, itupun dinihari. Semoga saja tidak mengurangi makna dan esensi dari refleksi Hari Kartini.
Mengenang sosok RA Kartini, rasanya kita para blogger khususnya perempuan harus berbangga hati dan bersyukur kepada beliau. Bagaimana tidak kita syukuri, mungkin tanpa perjuangan dan ide-ide beliau tidak mungkin saya bisa ngeblog seperti yang saya lakukan saat ini. Karena lewat perjuangan beliaulah kita para perempuan Indonesia bisa terbebas dari kungkungan adat yang menempatkan perempuan dalam bayang-bayang keterbelakangan dan kebodohan akibat keterbatasan akses pergaulan, pendidikan dan kesempatan. Sayangnya makna perjuangan Kartini yang begitu agung sekarang sering hanya menjadi peringatan melalui ritual-ritual tanpa makna.
Setiap tanggal 21 April di berbagaiinstansi pemerintah maupun swasta tidak lupa memperingati hari Kartini.Hampir di setiap sekolah menjelang Hari Kartini selalu heboh dengan berbagai kegiatan, mulai dari upacarayang semua petugas perempuan sampai mewajibkan peserta berbusana tradisional. Selain itu masih diikuti berbagai kegiatan lomba. Sayangnya kadang kegiatan-kegiatan tersebut justru jauh dari esensi perjuangan Kartini dan sering merepotkan. Kalaupun tidak merepotkan kadang berbagai kegiatan hanya mengungkap sisi domestik perempuan, bukan berkaitan dengan ide dan pemikiran cemerlang yang ditanamkan RA Kartini.
Di instansi pendidikan, misalnya di sekolah kadang murid-murid perempuan diwajibkan berkebaya, kemudaian lomba berpakaian Jawa dan justru merepotkan banyak orang. Sebagai wali kelas saya pernah dibuat repot memilih wakil kelas untuk berbagai lomba di sekolah mulai lomba berbusana Jawa sampai membuat tumpeng, karena mayoritas siswa tidak mau. Untuk Ibu-ibu Guru (Dharmawanita) pernah istri Kepala Sekolah juga membuat ide yang aneh-aneh dengan lomba yang merepotkan pula. Pernah pula saya berdebat dengan beliau karena mengadakan lomba memasang sanggul plus berkebaya Jawa komplit (Mau nyinden kali....) Menurut saya hal tersebut justru menyimpang dari esensi perjuangan RA Kartini, karena yang patut kita teladani bukan cara berbusananya saja tetapi ide danpemikirannya yang cemerlang.
Beruntung peringatan hari Kartini tahun ini, karena mendekati Ujian Nasional SMP tidak diadakan lomba untuk siswa seperti tahun-tahun lalu. Tapi justru lomba untuk ibu-ibu Dharmawanita, meski masih berurusan dengan kegiatan domestik namun, tidak merepotkan seperti tahun-tahun sebelumnya. Yaitu lombamerias wajah tanpa cermin, memasukkan benang ke lubang jarum (lucu ya…), dan menghias kue tart. Gambar di postingan ini adalah karya saya dan teman-teman yang kebagian menghias kue tart. Meski nggak paham urusan kue, ketika ikutan lomba saya PD aja, tempel sana tempel sini. Akhirnya dapat juara I juga (Terbaik dari yang terburuk, he...he...)
Sebagai guru sebenarnya saya tidak sependapat dengan ritual-ritual tersebut dalam memahami makna perjuangan RA Kartini. Sudah semestinya kita kembali esensi perjuangan beliau. Kemajuan-kemajuan kaum perempuan Belanda telah membangkitkan rasa ’iri’ dalam diri Kartini seperti yang dituturkan sahabat-sahabat pena Kartini membangkitkan pemikiran-pemikiran brilian berkaitan dengan kebijaksanaan, kemanusiaan, dan kecintaaannya pada tanah air.
Kartini menuangkan pemikirannya dalam bentuk surat dan dikirimkan kepada sahabat-sahabatnya, RM Abendanon dan Estelle “Stella” Zeehandelaar. Pemikiran dan gagasan R. A. Kartini tak melulu hanya masalah emansipasi dan keluhan-keluhannya terhadap adat Jawa yang menghambat kemajuan perempuan pada waktu itu. tetapi juga perhatiannya terhadap masalah lain seperti agama, sosial, dan budaya.
Sayangnya pemikiran dan perjuangan RA Kartini saat ini mengalami bias. Dan yang lebih banyak ditonjolkan saat ini melulu persamaan hak dan kedudukan antara kaum wanita dan pria saja yang kadang justru berlebihan. Padahal perjuangan Kartini tempo duluadalah pilihan Kartini yang memilih menulis untuk mengekspresikan pikiran-pikirannya. Sementara kaum perempuan saat ini lebih banyak “berkoar-koar” atas nama emansipasi yang justru merusak esensi dari emansipasi yang diperjuangkan Kartini dulu.
Tulisan ini mungkin hanyalah refleksi diri saya sebagai perempuan, yang berusaha mengekspresikan apa yang menjadi pemikiran saya melalui sebuah tulisan. Dan sekaligus mengajak perempuan atau rekan blogger khususnya perempuan mari kita menulis apa saja yang kita pikirkan. Siapa tahu ide dan pemikiran kita yang sederhana dapat menginspirasi perempuan lainnya syukur-syukur bisa memajukan bangsa. Amiin.
Mungkin rasa syukur yang tak terkira yang bisa saya ungkap pada hari ini. Setelah berbagai peristiwa di hai-hari kemarin yang membuat rasa prihatin dan betapa kecilnya diri inidi mata Alloh. Peristiwa-peristiwa yang membuat saya menysukuri betapa besarnya nikmat yang saya terima, karena ternyata saya sangat beruntung dibanding saudara-saudara saya di Situ Gintung yang mengalami musibah dan menerima cobaan pada Jum’at dini hari kemarin.Meski hanya bisa menyaksikan tayangan di TV saya bisa membayangkan betapa berat penderitaan dan beban yang harus ditanggung saudara-saudara kita yang mengalami musibah lebih mengerikan dibanding apa yang baru saja terjadi di wilayah Solo Raya.
Rabu, 25 Maret 2009 adalah hari yang tidak akan pernah saya lupakan seumur hidup saya, dan insyaallah itu peristiwa pertama dan terakhir yang paling menakutkan yang pernah saya alami. Ya hari itu sekitar pukul 20.30 – 22.00 WIB untuk kesekian kalinya wilayah SoloRayadilanda angina puting beliung disertai hujan deras dan kilatan petir yang bak membelah langit. Meski sudah beberapa kali terjadi di wilayah Soloraya, namun di lingkungan tempat tinggal saya baru kali ini terjadi (dan semoga tidak terulang) yang selama ini hanya saya saksikan di media.
Malam itu sekitar jam 20.15 WIB sehabis membantu anak saya menyiapkan jadwal untuk hari Jumat (kebiasaan, meski Kamis libur buku-buku harus sudah siap di tas sebelumnya). Seperti ritual hari-hari biasa sebelum tidur, meski sudah kelas II segala aktifitas selalu harus ditunggui termasuk gosok gigi dan cuci kaki. Pas baru beranjak dari kamar mandi, saya sebenarnya juga berniatlangsung tidur karena kecapekan seharian ikut seleksi Guru Pemandu di LPMP Semarang. Belum sempat nyamapai tempat tidur hujan turus deras, dan kilat menyambar-nyambar. Beberapa detik kemudian listrik padam.
Perkiraan saya, udara sangat panas siang harinya mungkin hanya hujan biasa, ternyata tidak hanya hujan air tetapi disertai kilat petir menyambar-nyambar seperti langit yang akan terbelah disertai angin kencang. Meski nyali saya ciut, saya dan suami berusaha mneenangkan anak saya yang menangis ketakutan, sambil bersiap-siap di depan pintu kemungkinan terburuk yang akan terjadi. Di dalam rumah juga was-was takut-takut ketimpa atap, sedang kondisi di luar keluar rumah petir menyambar-nyambar disertai suara angin (saya hanya mendengar suara angin bergemuruh, disertai suara dahan-dahan pohon tumbang dan pot jatuh dari atas tembok pagar).
Tidak lama berselang, saya mendengar suara dentuman dari atap yang sangat keras diiringi suara kaca yang pecah di depan rumah. Di antara petir yang menyambar sekilas saya melihat benda kotak jatuh (Esok paginya, ternyata jendela tetangga sebelah rumah lepas dan jatuh di depan rumah saya). Saya waktu itu hanya berdoa dan pasrah kepada Allah apapun kemungkinan terburuk yang terjadi…Anak saya menangis terus dan bertanya: “Apa ini mau kiamat ….?. Beruntung peristiwa mencekam sekitar 2 jam tersebut segera berakhir, karena sekitar pukul 22.30 WIB hujan dan petir sudah reda, dan tidak ada suara angin lagi. Meski listrik padam, puji syukur saya terlepas dari kejadian mencekam itu.
Liburan esok harinya, akhirnya ekstra keras bekerja menyingkirkan patahan-patahan pohon, juga pot-pot koleksi tanaman saya yang berserakan. Alhamdulilah, meski kotoran daun-daunan di mana-mana namun saya bersyukur ternyata saya lebih beruntung dibanding tetangga-tetangga saya. Ternyata banyak yang lebih parah, karena banyak genting-genting rumahnya yang hilang…Selain itu di wilayah Solo Raya (termasuk Sukoharjo, Klaten, Boyolali, Karanganyar dan Sragen) banyak rumah roboh dan pohon tumbang. Di kota Solo sendiri banyak baliho yang ambruk. Bahkan tembok PT Danliris di Cemani Sukoharjo juga ambruk. Alhamdulilah peristiwa di Solo tidak sampai memakan korban jiwa, meski diberitakan beberapa warga terluka.
Meski sama-sama baru saja mengalami bencana, mungkin masyarakat Solo saat ini hanya bisa mensyukuri betapa Allah memberikan nikmat yan tiada terkira dibanding nasib saudara kita di Situ Gintung, yang harus kehilangan kerabat dan sanak saudara… Betapa lebih menderitanya saudara-saudara kita di Situ Gintung akibat murkanya alam, yang mungkin selama ini kita kurang peduli dan menghargai keberadaannya…Untuk itulah selayaknya bagi kita merefleksi diri bagaimana selama ini kita sangat tidak menghargai alam sekitar kita.
Betapa selama ini kita tidak mensyukuri apa yang telah diberikan Alloh kepada kita, dan lebih banyak menyesali apa yang belum kita dapatkan, dan mengabaikan nikmat yang kita rasakan… Dan mungkin kita layak memberi apresiasi dari pernyataan Kak Seto (Pemerhati anak) dalam tayangan infotainment, meski beliau sendiri merupakan korban keganasan Situ Gintung, namun masih memikirkan nasib orang lain, karena bentuk rasa syukurnya atas kenikmatan berupa keselamatan yang diberikan Alloh kepada keluarganya. Mudah-mudahan musibah demi musibah yang menimpa negeri ini semakin mendekatkan diri kita kepadaNya, lebih mensyukuri nikmatNya, peduli dan care terhadap ciptaan-ciptaanNya, dan kita lebih berempati kepada sesama. Semoga saudara-saudara di Situ Gintung sabar dan tabah menerima ujian ini. Amin.
Geguritan (Puisi Jawa) berikut merupakan bahan renungan keprihatinan saya ketika melihat dan mendengar "sepak terjang" rekan-rekan guru yang melakukan tindakan kurang terpuji ("demo") ketika dinyatakan tidak lolos PLPG (Pendidikan dan Latihan Profesi Guru) di Rayon 13 Karesidenan Surakarta atau buat rekan-rekan guru lainnya...
Buat rekan-rekan guru marilah kita renungkan....! (Mohon maaf belum sempat diterjemahkan)
SANG GURU
Dening: Susilowati S. Hardjono
Solo Pos, Kamis, 20 November 2008
Guru-guru sejati wis mati, Sing ana guru palsu
Malsu dokumen, malsu katrangan, Malsu portofolio
Obahe kaya mili kenter
Kaya ora keduman, Sapa kanca sapa lawan
Yen prelu cepet disikat, Sikat sikut kana
Lena ing bebaya
Obahing jagat kang nggegirisi
Ati mati, Hawa amba
Guru-guru padha mbingungi
Sertifikasi
Adhempanas rina wengi
Sebab sejati ora gaji sing digoleki
Tentreming ati kaya wingi-wingi
Padha padudon, rebutan balung
Bathok bolu ora isi madu, Prahara dawa
Ing ngendi jejering guru sejati, Apa wis mati?
Balimulih ing nurani
Rakyate sekarat kok jaluk mundhak gaji
Ilmu ukuraning gaji
Bali mulih ing ati
Apategel nyawang bayi sekarat mati?
Ora ana sing dipangan
Aja gumunan aja kagetan, Jaman malik puteran
Ati temata titi ngati-ati, Yen ora tundhone diri pribadi
Sing kena pokaling jaman
Nepsu budi hangrasawani
Ini dari Pak Achmad Agus lagi ...!
Guru sejati bakal lahir maneh.
Ora mung sawiji, bakal gilir gumanti,
Nggladhi kadigdayan ing kawah condro dimuko
dimen dadi guru kang temen, pinter, jujur, tumusing ati
Duh Maha Resi yang mengetahui jumlah kelopak bunga seluruhnya yang telah gugur, yang sedang kembang serta yang baru tumbuh di bumi dan langit
Ampunilah kebodohan kami
Duh Maha Empu yang mengerti batas terkecil dan batas terbesar dari setiapjiwa dan raga, penjaga yang terahasia dari kenyataan, pemelihara yang paling nyata dari rahasia, seluruhnya di bumi dan langit serta yangtak di keduanya.
Ampunilah kekerdilan kami
Duh Maha Guru cakrawala segala kemungkinan dan ketidakmungkinan, wilayah tak berhingga darisegala ketinggian dan keagungan, penggenggam kunci misteri kebenaran dan keadilan,satu-satunya yang sanggup menerangkan cinta dan keindahan.
Ampunilah Ketidaksabaran kami
Duh Maha Raja yang bertahta tanpa singgasana, yang bersemayam tanpa tempat, yang bernafas tanpa udara, yang berenang tanpa samudra, yang menerangi, tanpa cahaya, yang hidup tanpa kehidupan, yang suci dari segala ilmu kandungan ruang dan waktu
Ampunilah keangkuhan kami
Duh Maha Pendekar yang sanggup meremasseluruh tata jagad raya menjadi setetes sunyi, yang mampu meniup kehidupan ini sekarang juga sehingga menjadi tiada, yang dengan seucapan“KUN” bias membuat segala sesuatu menjadi sia-sia
Ampunilah kebusukan hati kami
Duh Maha Kekasih, kalau tak Paduka bangunkan kami dari tidur, kalau Paduka potong Seurat nadikesadaran kami, kalau Paduka hempaskan dan aduk gunung-gunungdan samudra dengan ujung jari Paduka tanpa Paduka kami semua Paduka matikan. Duh Maha Kekasih, Duh Maha Kekasih
BERKAHILAH PROFESI KAMI…
Tambahan dari Pak Achmad Agus S:
"Wahai Engkau Pemegang Keampunan, ampunilah aku, karena baru kusadari bahwa diriku ini tidak banyak mohon ampun kepadamu ...."