MULYATI'S BLOG

Guru biasa memberitahukan,
Guru baik menjelaskan, Guru ulung memperagakan,
Guru hebat mengilhami.
Pengalaman Pembelajaran Lesson Study KTI/PTKSoal MatInfo

Minggu, 15 Maret 2009

Jaring-Jaring Limas Yang Membuat Gemas

DO PUTARAN KETIGA



Rabu, 11 Maret 2009 adalah giliran saya dan Pak Tri melaksanakan DO putaran terakhir di SMP 15 Yogyakarta. Meski banyak hal yang mesti saya perbaiki. Misalnya tentang proses apersepsi yang sempat membuat saya mengubah skenario karena siswa tidak mengerjakan PR juga perhatian saya yang kurang jeli, karena salah satu siswa “tertangkap” observer nyambi membaca novel. Proses apersepsi yang semula membuat siswa “mati gaya” karena mungkin PR pertemuan sebelumnya sangat sulit (Masalahnya editor soalnya teman kami yang “pakar geometri”, yaitu Pak Ade. Barangkali sealiran dengan Pak Kirman, he…he…).



Beruntung anak yang deadlock menamai sudut-sudut jaring-jaring kubus, tidak berlangsung lama, karena saya segera masuk ke inti pembelajaran untuk membahas jarring-jaring prisma dan limas. Tapi satu hal yang saya peroleh dari proses apersepsi yang deadlock adalah bahwa anak paham betul ketika membuat jaring-jaring kubus tanpa nama titik sudut, tetapi ketika diminta memberi nama titik sudut-titik sudut dari sebuah jaring-jaring kubus mereka mengalami kesulitan. Menurut saya hal ini wajar, karena saya sendiri sebagai guru ketika mendapat materi tersebut dalam kuliah Pendalaman Materi awalnya juga mikir lama…



Namun begitu masuk ke kegiatan inti jaring-jaring prisma dan limas, berdasarkan pengamatan yang dilakukan tim, proses pembelajaran berlangsung interaktif dan menarik. Ternyata anak-anak sangat kreatif, dan berhasil menemukan banyak macam jaring-jaring prisma dan limas yang awalnya tidak kami pikirkan. beberapa kelompok, tidak cukup dengan lembar kerja yang kami sediakan. Saking asyiknya sampai batas waktu yang dtetapkan siswa juga tidak mau berhenti, bahkan banyak yang menyatakan pulangnya diundur juga tidak apa-apa…(Wah, kapan ada murid saya yang begini ya…)



Bahkan kelompok yang mendapat giliran menemukan jaring-jaring limas segi enam, sampai gemas karena waktu sudah habis tapi menurut mereka masih ada yang belum sempat digambar (Akibatnya yang sudah digambar pun ada sisi yang tercecer satu). Dan ternyata anak-anak jeli, karena hal ini ditemukan kelompok lain saat presentasi. Proses penyanggahan atau menanggapi juga lebih “elegan” dibanding DO sebelumnya. Anak-anak tidak berebutan dan saling mengejek lagi, tetapi menyanggah dengan cara yang tertib. Intinya mereka semakin paham perbedaan pendapat dalam azas demokrasi. Hikmah yang perlu kita petik adalah “KADANG-KADANG KITA ORANG DEWASA (GURU) PERLU BELAJAR DARI MURID-MURID KITA” atau dengan istilah Jawa: KEBO NUSU GUDEL.

Kamis, 12 Maret 2009

"Akting" Yang Memukau

BELAJAR TEKNIK APERSEPSI

DARI REKAN SEJAWAT



Satu hal yang menjadi tantangan saya pribadi dalam proses PKM model Lesson Study ini adalah kendala kekurangmampuan saya saat proses apersepsi. Berdasarkan hasil refleksi dari proses pembelajaran yang saya lakukan, hampir semua observer menyatakan bahwa saya terlalu tergesa-gesa saat proses ini. Entahlah, karena ketika kita sudah menjalankan skenario di depan kelas, rasa-rasanya seperti sudah melakukannya dengan baik dan benar, namun kadang-kadang justru karena diskenario saya sendiri merasa terkejar-kejar oleh durasi tayangan sehingga tidak dapat melakukan apersepsi secara maksimal.



Secara pribadi saya salut dan kagum dengan cara apersepsi oleh pak Tri yang katanya meniru proses apersepsi pada Pak Dede di putaran pertama. Bagaimana tidak mengagumkan, ketika proses apersepsi untuk mengingatkan siswa tentang unsur-unsur bangun ruang, dengan pertanyaan-pertanyaan dan ekspresi yang “mengejutkan” siswa justru membuat anak terpana. Saya sendiri mau meniru “acting” rekan-rekan sejawat saya ternyata juga tidak meng”efek” banyak ketika pembelajaran yang saya lakukan. Mungkin situasi pembelajaran dan siswanya yang mempunyai karakteristik yang berbeda. Atau memang saya mungkin tidak punya bakat berekspresi jenaka, karena pada dasarnya kata orang saya tipe terlalu serius. Saya sendiri juga sulit meniru gaya rekan saya berdua tadi.



Sampai saat inipun memang saya masih penasaran bagaimana menyampaikan proses apersepsi, sehingga membuat anak konsentrasi atau bahkan bisa terpana. Memang saya akui sepertinya saya masih perlu belajar banyak tentang hal ini kepada kedua rekan sejawat saya. Saya bisa merasakan ternyata proses pembelajaran yang diterapkan selama PKM selain berdampak pada siswa yang kami ampu juga menjadikan saya pribadi belajar banyak dari rekan-rekan satu tim, karena kelebihan rekan lain bisa menjadi masukan bagi saya dan kekurangan rekan lain bisa menjadi perbaikan proses yang saya lakukan.

Rabu, 11 Maret 2009

Berapa Ya....?

BANYAKNYA MODEL JARING-JARING BALOK

Putaran pertama pelaksanaan (DO) Lesson Study sudah terlewati, setelah Bu Lastri, Pak Ade dan Pak Dede melaksanakan pembelajaran pada Senin, 2 Maret 2009. Dan Rabu, 4 Maret 2009 tibalah giliran saya dan Pak Tri mengimplementasikan RPP yang telah kami rancang tidak kalah lama dengan PLAN putaran pertama.



Dalam proses PLAN kedua ini kami sempat berdebat panjang karena kami penasaran untuk menemukan berapa sebenarnya jaring-jaring balok yang bisa terbentuk. Untuk kubus sudah jelas karena banyak sumber dan disepakati bahwa jaring-jaring yang dapat membentuk kubus adalah 11 buah. Sedangkan balok, kami belum menemukan sumber terpercaya berapa sebenarnya model jarring-jaring yang mampu menyusun balok. Bahkan Pak Dede dan Pak Ade sempat berkali-kali “otak atik gathuk” bereksperimen untuk mencari model tersebut (dan ternyata lebih dari 11). Persisnya pasti kami tidak sepakat menentukan, karena yakin masih banyak lagi yang belum kami temukan.



Meski sebenarnya saat PLAN kami sempat berpikiran siswa yang kami ampu tidak mungkin akan menemukan lebih dari 11 buah, namun kami tetap saja bereksperimen untuk menemukan banyaknya jaring-jaring balok. Karena dugaan semakin berkembang membuat kami bingung sendiri akhirnya disepakati banyak persegi dan persegipanjang pembentuk jaring-jaring kubus dan balok masing-masing diberikan 11 set. Jika mungkin nanti siswa ada yang menemukan lebih maka tim kami juga menyediakan bahannya untuk antisipasi. Tidak tanggung-tanggung untuk proses ini pak Dede harus menggunting dan menghitung serta memasukkan potongan persegi dan persegi panjang yang lumayan banyak ke dalam kantong plastic untuk memudahkan proses pendistribusian per kelompok.



Memang akhirnya, di kelas saya dan kelas Pak Tri dugaan-dugaan awal kami terbukti. Salah satu kelompok di kelas kami bahkan menemukan lebih dari 11 jaring-jaring balok, dan minta tambahan bangun datar. Karena terkendala waktu terpaksa proses pencarian mereka terpaksa saya “rampas” dan dilanjutkan proses diskusi karena skenario hanya tayang 2 jam pelajaran.



Berdasarkan hasil refleksi ternyata proses penemuan yang sigap oleh siswa dipengaruhi oleh heterogenitas kelompok. Di mana pada DO kedua ini lebih bagus dibanding pembentukan kelompok DO pertama, karena pemerataan anggota siswa laki-laki dan perempuan. Dalam proses diskusipun anak sangat antusias dan merasa enjoy. Di kelas saya sendiri (VIII B) anak sangat antusias. Waktu presentasi kelompok anak juga sangat aktif, dan bahkan saling menanggapi hasil kerja kelompok lainnya. Mereka juga jeli ketika ada kelompok yang membuat jarring-jaring yang “meragukan” atau hanya bertemu di satu titik sudut.



Minggu, 08 Maret 2009

Pentingnya Memahami Karakter Peserta Didik

Belajar dari "DO" Kedua Putaran Pertama



Lega rasanya tim kami sudah selesai melaksanakan tahapan lesson study putaran pertama. Setelah tiga anggota kami (Pak Lastri, Pak Ade, Dan Pak Dede) berhasil melaksanakan pembelajaran pada kelas VIII A, C, dan I pada Senin, 2 Maret 2009. Pembelajaran ini merupakan DO tahap kedua. Setelah kemarin (Rabu, 25 Februari 2009) saya dan Pak Tri telah melaksanakan DO tahap pertama.



Siswa dari masing-masing kelas ternyata berbeda responnya terhadap proses pembelajaran yang telah dilkasanakan. Kelas VIII A dan VIII C, misalnya dengan latar belakang akademik sedikit lebih rendah dibanding kelas VIII B, VIII D dan VIII I ternyata juga memerlukan penanganan yang berbeda dalam proses pelaksanaannya.



Terbukti di kelas VIII A sejak awal pelajaran ternyata anak sulit berkonsentrasi karena terpengaruh suara bising di luar, karena bersamaan dengan jam olahraga. Sampai proses diskusipun konsentrasi anak juga terganggu. Sehingga banyak anak yang masih menyempatkan diri melongok ke luar jendela. Pada proses presentasi pun banyak anak yang tidak memperhatikan temannya yang dengan susah payah presentasi di depan kelas. Bahkan tidak seorangpun anak yang mau menanggapi. Malahan yang ada menyoraki temannya agar turun ke tempat duduknya. Menurut kesimpulan kami sementara, siswa-siswa tersebut memang memerlukan perhatian khusus satu demi satu, karena mereka susah diajak konsentrasi ke pelajaran. Selain itu mungkin ketegasan guru untuk menggiring anak agar serius mengikuti proses pembelajaran juga pentning. Dan ini merupakan tantangan Bu Lastri pada putaran berikutnya.



Di kelas VIII C kondisi lebih terkendali karena proses awal pembelajaran siswa agak terkondisikan dengan apersepsi yang meyakinkan oleh Pak Ade. Tidak seperti kami berempat proses awal pembelajaran dimulai dari pendekatan Prisma dan Limas, bukan Kubus dan balok seperti yang telah kami lakukan. Memang sebenarnya kubus dan balok merupakan prisma juga. Dan ini ternyata menggiring siswa dari sudut pengertian yang berbeda. Pada saat diskusi meski juga mengalami kegaduhan, namun kelas ini lebih mudah dikendalikan. Mungkin karena kondisi siswa yang lapar dan lelah karena jam terakhir juga ikut mempengaruhi suasana belajar siswa.



Sedang kelas VIII I karena memang latar belakang akademiknya sedikit lebih baik dibanding 2 kelas yang lainnya membuat penguasaan kelas lebih mudah. Siswapun ketika diminta membentuk kelompok dengan cekatan menempatkan diri. Dalam proses diskusipun juga tidak mengalami hambatan yang berarti. Hanya dua anak yang merasa luput dari perhatian guru juga ogah-ogahan.



Sebagai observer banyak hikmah yang bisa saya petik dari “DO” putaran pertama kemarin, yaitu pentingnya pemahaman karakter peserta didik. Hal kemarin mungkin karena kita terpaku pada skenario PLAN yang ada, sehingga kita sering beranggapan bahwa cara dan pendekatan yang sama bisa kita terapkan pada kelas yang berbeda. Mungkin hal ini sering kita lupakan juga di kelas tempat mengajar kita masing-masing.

Minggu, 01 Maret 2009

Wah ..... Ternyata Enak Ya...!

"DO" YANG MENYENANGKAN
Marem dan seneng... itulah mungkin yang dirasakan oleh tim kami. Rabu, 25 Pebruari 2009 tim kami berhasil mengimplementasikan RPP yang telah kami susun dengan "cara seksama dan dalam tempo sangat lama". Namun meski persiapan kami yang sepele terasa melelahkan, namun tim kami merasa puas dan sedikit lega karena saya bersama kawan-kawan berhasil melewati tantangan pertama kami. Ya hari itu saya dan Pak Tri sebagai guru model terasa nyaman mengimplentasikan RPP yang kami susun.

Gimana ndak merasa nyaman, ternyata siswa-siswa "baru" kami sangat kooperatif ketika kami bimbing. Padahal awalnya kami telah diberitahu guru pamong dengan "bekal-bekal" bahwa murid-murid yang akan kami ampu mempunyai karakteristik "begini dan begitu". Awalnya tim kami pesimis, apakah kami mampu membuat pembelajaran kami interaktif seperti yang diharapkan Pak Marsigit dengan "kualitas keduanya". Tetapi dengan informasi yang tidak dibuat-buat dan sesungguhnya dari guru pamong, justru membuat kami perlu mempersiapkan diri dengan baik...

Dan nyatanya kami (peserta) maupun guru pamong terkesan dengan pembelajaran yang kami laksanakan. Anak-anak merasa senang, antusius, dan sangat kooperatif. Dengan pendekatan penemuan terbimbing yang kami laksanakan ternyata membuat proses pembelajaran benar-benar hidup. Meski dalam pembagian kelompok awalnya anak-anak cenderung pilih-pilih, namun ternyata mereka sangat interaktif, baik dengan teman maupun dengan guru model.

Di luar dugaan, dalam presentasi kelompok, anak-anak ternyata sangat "mahir" menurut ukuran anak usia SMP. Terbukti di kelas VIII B yang saya ampu, banyak anak yang menyanggah dan berdebat ketika membahas bidang diagonal kubus dan balok. Salah satu kelompok yang presentasi bisa merespon balik temannya yang menyanggah dengan pernyataan "bagaimana menurut pendapat anda". Saya katakan ini mahir karena, tidak pernah saya temukan pada murid-murid asli saya ketika saya beri kesempatan berdiskusi. Ini menurut guru pamong juga di luar dugaan mereka. Hal ini menunjukkan bukti bahwa ternyata anak-anak mampu jika mereka diberi kesempatan.


Dan kesan tim kami menyikapi tahapan lesson study ini yaitu tahap "DO" pun sama...


Wah Ternyata Enak Ya..........!

Jika kita merencanakan pembelajaran bersama dan sungguh-sungguh...

Hanya masalahnya, ketika saya kembali ke "habitat" asli saya nanti maukah teman-teman guru saya ajak untuk melakukan hal yang sama..? Dan rasa-rasanya saya perlu usaha lebih keras lagi untuk "membangunkan" guru dari "comfort zone" nya selama ini...Insyaallah akan saya coba.