MULYATI'S BLOG

Guru biasa memberitahukan,
Guru baik menjelaskan, Guru ulung memperagakan,
Guru hebat mengilhami.
Pengalaman Pembelajaran Lesson Study KTI/PTKSoal MatInfo

Sabtu, 06 Maret 2010

Sekolahku, Guruku: 24 Tahun Lalu dan Selamanya

NOSTALGIA SEKALIGUS BERBAGI PENGALAMAN

Pengalaman  indah  yang tidak akan pernah terlupakan dalam hidup saya karena pada Rabu, 8 Desember 2009 dan 3 Maret 2010 saya mendapat kesempatan langka bernostalgia di sekolah saya dulu karena saya diundang oleh MGMP Sanggar 10 Wonogiri untuk berbagi pengalaman menulis Penelitian Tindakan Kelas (PTK) di kegiatan MGMP BERMUTU (Better Education through Reformed Management and ersal Teacher Upgrading) yang kebetulan dipusatkan di SMP N. 1 Purwantoro.
Dari sekian jenjang sekolah yang sempat saya lalui, di sekolah inilah saya merasa "besar".. Bagaimana saya tidak merasa "besar" karena di sekolah ini pula masa-masa "kejayaan" saya raih, tepatnya sekitar 24 th lalu. Ya, di sekolah ini mulai kelas II saya sempat mencapai puncak prestasi tertinggi. Saya masih ingat ketika kelas II saya sempat mendapat peringkat I paralel hingga saya mendapat hadiah yang luar biasa (pada waktu itu), yaitu bebas SPP selama 6 bulan. Kalau tidak salah ingat waktu itu per bulannya hanya Rp3.000,00. Dan masih terbayang jelas ekspresi kebanggaan Bapak saya ketika rapat walimurid, namanya disebut-sebut.
Meski saat kelulusan nilai saya jatuh tapi alhamdulillah saya masih menduduki peringkat 7 besar paralel, dan saya bisa dengan mudah melenggang masuk sekolah favorit di Ponorogo yaitu SMA I. Meski Bapak saya harus susah payah ngurus ijin  Semarang –Surabaya, karena lintas propinsi.

Di SMP dulu semua pelajaran saya suka karena saya merasa semuanya menyenangkan, mulai Mengetik, Karawitan, Bahasa Indonesia (terutama sastra), IPA, IPS  sampai Bahasa Inggris dan Matematika. Dua pelajaran terakhir inipula yang sering membuat saya  “tersipu-sipu” dipuji karena sering mendapat nilai terbaik.
Tetapi yang sering membuat saya malu adalah  pada pelajaran IPS saya pasti mendapat nilai yang rendah untuk nilai murni. Meski saya sudah berusaha belajar sampai ngumpulin soal-soal penyelesaian  waktu itu saya tidak pernah mendapat nilai yang baik di pelajara ini. Padahal wali kelas saya waktu itu (Pak Mulyono) mengampu IPS. Bapak saya waktu itu juga sempat merasa “pekewuh” kala mengambil raport karena nilai IPS saya selalu terjelek di antara mapel lainnya. Di nilai EBTA NAS murni saya pun nilai IPS saya terjelek. Entahlah, saya sendiri juga heran meski belajar keras selalu saja nilai IPS saya yang terjelek.
Untuk Matematika di SMP dulu adalah pelajaran yang paling mengesankan. Tanpa mengabaikan jasa guru-guru Matematika yang lain, guru saya waktu itu (Pak Tanto) yang paling membuat saya berkesan. Beliau mengampu kelas saya saat saya kelas III. Dengan gaya dan caranya yang inovatif pelajaran Matematika bukan sesuatu yang menakutkan bagi saya dan teman-teman waktu itu. Satu hal yang sampai sekarang saya dan teman-teman masih ingat adalah cara beliau menyampaikan konsep Trigonometri tentang nilai-nilai Trigonometri Sin, Cos dan Tangen di tiap kuadran. Waktu itu untuk memudahkan kami mengingat nilai-nilai yang positif di tiap kuadran beliau membuat singkatan Co Tang Si Al, yaitu nilai-nilai positif mulai dari kuadran IV. Nilai-nilai itu mudah sekali diingat karena Co Tang (dibaca “kotang”, dalam bahasa Jawa “kotang” (maaf) sangat familiar dan berarti pakaian dalam (BH). Meski terkesan negatif tapi ternyata singkatan itu dulu banyak membantu teman-teman saya dalam menyelesaikan soal-soal Matematika (Trigonometri).
Sebenarnya banyak kisah-kisah lucu, menarik dan mengisnpirasi saya ketika SMP dulu, dan kisah-kisah itu kini ketika saya baru saja ketemu lagi dengan beliau-beliau sungguh masih tergambar jelas.  Dan kebanggaan beliau atas apa yang saya capai sekarang ini adalah apresiasi yang luar biasa untuk saya selain doa restu beliau-beliau yang rela datang di hari pernikahan saya 10 tahun lalu.
Ketika bertemu kembali dengan beliau saya merasa, ternyata menjadi guru bisa awet muda. Nyatanya kala saya ketemu guru-guru saya, sepertinya masih sama dengan yang saya temui 24 tahun lalu. Apa muridnya yang cepet tua, entahlah. Yang jelas dari beliau-beliau inilah sampai saya bisa begini. Terimakasih Bapak/Ibu Guruku, engkau telah mengantarkanku mengikuti jejakmu yang sungguh mulia. Semoga jasamu menginspirasiku selamanya.

Sabtu, 27 Februari 2010

Kejutan Terindah dari Anak Didikku (2)


PELAJARAN BERHARGA 
TETANG MAKNA BERBAGI DAN MENGHARGAI (2)
 

Hari Selasa,  jam pertama adalah jadwal saya di kelas 9A Selama ini anak-anak kelas 9 A  sudah paham betul kebiasaan saya. Saya paling tidak suka jika waktu mau mulai pelajaran anak-anak belum siap dan  masih jadi "mandor" di depan kelas atau "inguk-inguk" di depan pintu. Anak-anak kelas lain pun, meski bukan kelas yang saya ampu, jika melihat saya lewat pada saat menjelang jam pelajaran mereka akan segera masuk kelas, karena mereka sudah tahu, pasti akan saya "oyak-oyak" untuk segera masuk. Ini adalah salah satu cara saya membiasakan mereka tertib, selain dalam hal kerapian berpakaian.
Kebiasaan saya ini sengaja saya terapkan karena untuk memulai belajar, semestinya anak-anak ditumbuhkan sikap  dan kesadaran diri yang baik. Dan kesadaran diri ini akan tumbuh kalau dibiasakan.
Tapi hari itu  Selasa, 23 Februari 2010 adalah hari yang hampir membuat saya tersipu malu. Bagaimana tidak, ketika saya masuk kelas 9A memang tidak ada anak-anak di depan pintu, tapi pas di kelas ada sekitar separuh anak perempuan belum duduk di mejanya. Ketika saya tanyakan ke mana mereka, sebagian menjawab di belakang. Ada juga yang menjawab "jajan bu". Jawaban terakhir  ini yang membuat saya jengkel dan menahan marah.
Beruntung saya berusaha menahan diri, dan diam saja berdiri memandangi mereka. Anak-anak, juga diam tanpa ekspresi. Saat saya hanya diam tersebut, tiba-tiba dari depan pintu ada serombongan anak membawa kue ulangtahun. Satu kelas akhirnya mennyanyikan lagu ulang tahun untuk saya. Saking riuhnya kelas lain yang olahraga di lapangan sempat menengok ke kelas. 
Dan untuk kedua kalinya saya hanya menangis haru... melihat ketulusan mereka.
Dua hari berturut-turut saya telah mendapat pelajaran berharga dari mereka. Terimakasih anak-anakku, di balik kenakalan dan ulah mereka yang kadang membuat saya jengkel. Mereka berhati mulia. Mereka telah memberikan pelajaran berharga tentang berbagi dan menghargai kepada gurunya dengan cara mereka. Meski tanpa inipun anak-anak sudah menunjukkan bahwa apa yang saya tanamkan selam ini, telah menyentuh sanubari mereka. Meski  prestasi akademik mereka belum maksimal, tapi paling tidak rasa kebersamaan dan penghargaan mereka kepada orang lain, merupakan nilai yang lebih berharga dari segalanya.

Kejutan Terindah dari Anak Didikku (1)

PELAJARAN BERHARGA 
TETANG MAKNA BERBAGI DAN MENGHARGAI (1)


Seperti biasa hari Senin (22 Feb 2010) saya masuk kelas VIII A  pada jam ketiga. Saya agak molor dari biasanya karena ketika di luar banyak anak-anak yang menghampiri untuk sekedar mengucapkan selamat ulang tahun kepada saya seperti pada ulang tahun saya sebelumnya. 
Saat memasuki kelas VIII A seperti biasa saya menyapa anak-anak  dan tak lupa mengucapkan termakasih kepada anak-anak dan  beberapa orang tuanya  yang telah mengirimkan sms  dan  menulis di wall FB  saya malam dan pagi harinya. Saya juga menyampaikan syukur tak terhingga  bahwa ternyata masih banyak sekali yang peduli dengan saya, terbukti dengan banyaknya pesan lewat wall  FB yang lebih dari 100- an. Ketika saya sampaikan ucapan terimakasih  untuk diteruskan ke orangtuanya. Semua anak-anak cuma diam dan tanpa ekspresi.
Saya melanjutkan pelajaran seperti biasa. Kebetulan hari itu materinya melukis lingkaran luar dan lingkaran dalam segitiga. Anak-anak ya asyik saja melukis sesuai yang saya tunjukkan. Sampai saatnya istirahat saya juga masih bertanya-tanya dalam hati. "Kok, anak kelas VIII A nggak ada yang nyalami saya", padahal pagi harinya banyak yang ngirim SMS.
Pertanyaan itu akhirnya terjawab  ketika sehabis istirahat pertama hanya ada satu anak yang megangin pintu. Dan ketika saya mau masuk, dilarang "Bentar bu, tunggu lima menit saja". Setelah lima menit, belu sempat masuk saya sudah curiga, ada sesuatu karena semua korden di tutup rapat., hingga kelas hanya remang-remang. Dan ternyata... sambutan meriah tulisan besar-besar di papan tulis dan kue tar plus lilin di atasnya sudah menantidi atas meja guru...Nyanyian ulang tahunpun menggema di ruang kelask saya pagi itu.
Saya tak mampu berkata apa-apa selain berdiri terpaku. Tak terasa saya menangis haru. Acara selanjutnya saya hanya menurut saja ketika anak-anak meminta saya memotong kue. Dan seperti sutradara seinetron mereka mengarahkan saya untuk membagikan kue kepada anak-anak untuk difoto satu per satu. Sore harinya foto-foto mereka sebagian sudah saya upload dalam album  di FB saya.
Terimakasih anak-anakku, kau telah memberi pelajaran yang begitu indah kepada gurumu.

Jumat, 26 Februari 2010

TEMU AKBAR DAN SEMINAR PENDIDIKAN MATEMATIKA

Tema:
"Aplikasi Assesment for Learning  (AFL) dalam Pembelajaran Berbasis Konstruktivisme untuk Meningkatkan  Profesionalisme Guru Matematika"
  MGMP Matematika SMP Kota Surakarta
di Balai Muhammadiyah Surakarta, 17 Februari 2010

  
 
  
  
 
Keynote Speaker Prof. Dr Budyono MSc mengambil undian doorprize berupa 3 buah Hanphone

NB: Maaf ya... nggak sempat nulis ...  posting foto aja yah...

Jumat, 19 Februari 2010

Gedung Baru... Semangat Baru...?

PERESMIAN GEDUNG SMP 24-25 SURAKARTA
Solo, 6 Februari 2010

Selasa, 02 Februari 2010

Belajar Menjadi Guru Inovatif (1)


MEMBUKTIKAN TEOREMA PYTHAGORAS:
TIDAK (HARUS) MENGGUNTING DAN MENEMPEL

Kutipan  Karya:
Juara II LKG Tk Nasional 2009 (Kel Sains):

PENDEKATAN I-TESA DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA
SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN SIKAP POSITIF
DAN HASIL BELAJAR TEOREMA PYTHAGORAS



Materi pembelajaran Teorema Pythagoras merupakan materi pembelajaran kelas VIII SMP semester II yang berkaitan dengan konsep geometri. Pola pengajaran Pythagoras yang sering dilakukan guru selama ini adalah siswa hanya diberikan rumus untuk dihapal bahwa “jumlah luas persegi pada sisi siku-siku = luas persegi pada sisi miring” atau “jumlah kuadrat sisi siku-siku = kuadrat sisi miring”, dengan sering menuliskan a2 + b2 = c2.
Rumus tersebut seringkali membingungkan siswa karena ketika nama sisi-sisnya diubah siswa mengalami kesulitan untuk menyatakan hubungan sisi-sisinya. Atau jika gambar segitiga siku-sikunya posisinya diubah siswa sering menganggap bahwa sisi miring adalah sisi siku-sikunya.
Hal ini sebagai akibat dari pembelajaran selama ini  cenderung  disampaikan kepada siswa dengan cara praktis tanpa inovasi  sehingga siswa tidak memahaminya secara total. Siswa hanya menghapal rumus tapi tidak paham penggunaan rumus tersebut. 
Hal ini tidak terlepas pada orientasi pendidikan kita selama ini yang lebih mengedepankan aspek kognitif (UN) dan mengabaikan aspek lainnya. Kadang-kadang kondisi ini membuat guru apatis karena dengan cara praktis saja target kurikulum tidak tercapai, apalagi harus melakukan inovasi.
Namun sebenarnya banyak cara bisa kita coba maksimalkan untuk melakukan inovasi seperti yang telah coba saya lakukan, khususnya untuk materi pembelajaran berkaitan dengan Teorema Pythagoras. Jika selama ini pembuktian Pythagoras lebih banyak menggunakan perhitungan dengan persegi satuan atau model ”gunting – tempel”, saya mencoba mengggunakan media lain yaitu manik-manik (bisa biji-bijian atau apa saja) dan barang-barang bekas  yang dibuat siswa seperti pada gambar.  Selain itu juga dilakukan simulasi dengan menggunakan software Geogebra yang bisa didownload secara gratis.
Proses pembelajaran yang berlangsung menggunakan  pendekatan penemuan terbimbing dengan model campuran kooperatif. Dalam pembelajaran ini selain siswa belajar melalui pemahaman, siswa juga dilatih untuk  bekerjasama, toleransi dan keberanian dalam mengemukakan pendapat (presentasi).
Pembelajaran tersebut telah saya angkat dalam PTK (penelitian tindakan kelas) hingga saya mendapat kesempatan di Lomba Keberhasilan Guru (LKG) Tingkat Nasional Tahun 2009 kemarin.

Kamis, 31 Desember 2009

AKU NGEBLOG (lagi) KARENA AKU ADA… (2)

REFLEKSI JEJAK AKHIR TAHUN 2009 (2)

Rehat sejenak untuk kembali mengajar, ternyata dalam waktu bersamaan saya mendapat pemberitahuan untuk mengikuti final Lomba Kreasi dan Inovasi Media di Cipayung (9 – 13 November 2009) dan Lomba Inovasi Pembelajaran di Semarang (10 – 12 November 2009). Karena waktu bersamaaan akhirnya saya memilih berangkat ke Cipayung dan meninggalkan even lomba yang tingkat provinsi.
Meski dengan kondisi yang tidak fit saya bisa mengikuti kegiatan final dengan baik. Alhamdulillah meski sempat kecewa dengan kriteria penilaian media yang tidak begitu jelas saya bersyukur mendapat kesempatan di antara 30 orang pemenang (dari 6 mata pelajaran) diundang Mendiknas (Bp. Muh Nuh) dan Dirjen Pembinaan SMP (Prof Suyanto) untuk dialog di gedung Depdiknas di Senayan sehingga saya harus menginap lagi semalam di Jakarta sementara peserta lain bisa pulang. Di sela-sela dialog dengan Pak Dirjen ini pula saya kembali bersemangat karena dihubungi panitia bahwa naskah saya masuk final LKG 2009.
Pagi harinya saat mau pulang meninggalkan hotel Melawai Blok M saya sudah dihubungi suami bahwa ada surat tugas lagi dari Dinas DIKPORA Solo untuk mengikuti Diseminasi Hasil Lomba Provinsi (23 November 2009) yang kegiatan lombanya sendiri tidak sempat saya ikuti. Kegiatan ini ternyata berbuntut juga dengan undangan Seminar Nasional dalam rangka Hari Guru (26 Desember 2009), hingga baru 2 hari masuk sekolah saya harus meninggalkan anak didik saya lagi.
Perjalanan "dinas" saya di tahun 2009 berakhir ketika tanggal (28 Nov – 2 Des 2009) kemarin saya mengikuti Final LKG Tk Nasional 2009 yang diselingi dengan Puncak Peringatan Hari Guru tanggal 1 Desember 2009 bersama Presiden SBY di lapangan Tenis Indoor Senayan. Alhamdulillah meski pemenangnya tidak dikategori per mata pelajaran (seperti tahun 2008) saya sangat bersyukur mendapat kesempatan di urutan ke-2 untuk kelompok SMP Sains (Matematika, Fisika dan Biologi).
Barangkali akhir tahun 2009 kemarin benar-benar saya syukuri sebagai “Hari Guru” untuk saya karena kesempatan yang diberikan Allah SWT yang begitu luar biasa untuk saya. Meski di hati saya timbul rasa bersalah harus meninggalkan anak didik, namun saya berpikir kesempatan tidak akan datang dua kali. Saya rasa ini juga proses belajar saya yang pada akhirnya untuk meningkatkan kualitas pelayanan untuk anak didik saya. Berulangkali saya bersyukur dengan materi yang saya desain sedemikian rupa mereka bisa belajar meski tanpa saya hadir di hadapan mereka.
Mungkin itulah jejak-jejak “pembenaran” yang bisa saya gunakan untuk menyapa para sahabat blogger yang barangkali sudah hampir melupakan saya. Oleh-oleh dari masing-masing perjalanan saya insyallah akan meramaikan blog ini berikutnya dan mudah-mudahan dapat bermanfaat bagi pembaca yang membutuhkan.